Berita, Internasional

Forbes sebut rupiah salah satu mata uang terlemah dunia

Repelita.id

21 April 2026 22:44 WIB

Forbes sebut rupiah salah satu mata uang terlemah dunia
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Forbes merilis daftar 10 mata uang terlemah di dunia per 7 April 2026, dan rupiah masuk dalam daftar tersebut.

Data yang diambil dari open exchange disusun berdasarkan nilai tukar terhadap dollar Amerika Serikat, yaitu jumlah unit mata uang untuk setara 1 dollar AS.

ADVERTISEMENT

Nilai tukar rupiah saat itu berada di kisaran Rp17.066 per dollar AS.

Posisi pertama ditempati rial Iran dengan kurs sekitar 1 dollar AS setara 1.315.800 rial.

Posisi kedua dan ketiga diisi pound Lebanon dan dong Vietnam dengan nilai tukar masing-masing sekitar 89.565,64 pound Lebanon dan 26.336,58 dong Vietnam per dollar AS.

Posisi keempat ditempati kip Laos dengan nilai tukar 22.065,41 per dollar AS.

Forbes menulis bahwa Indonesia merupakan negara dengan PDB terbesar di Asia Tenggara terutama berkat sektor jasa.

Indonesia juga kaya akan komoditas, tetapi mata uang nasionalnya telah merosot karena kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi.

Namun, daftar tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pemeringkatan tersebut hanya benar dalam konteks yang sangat terbatas.

“Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per 1 dollar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang,” ujarnya.

Menurut Josua, pendekatan nominal membuat mata uang dengan denominasi besar terlihat lemah.

Ia menegaskan rupiah tidak termasuk mata uang dengan pelemahan terdalam jika dilihat dari kinerja nilai tukar.

Data Bloomberg menunjukkan depresiasi rupiah relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah mata uang lain.

“Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks,” tegasnya.

Josua menyebut indikator yang lebih relevan adalah Real Effective Exchange Rate (REER).

Berdasarkan indikator ini, rupiah berada di bawah level 100 yang menunjukkan cenderung undervalued.

Fundamental ekonomi domestik juga dinilai masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 5,11 persen.

Inflasi Maret 2026 berada di level 3,48 persen, sementara cadangan devisa mencapai sekitar 148,2 miliar dollar AS.

Realisasi investasi pada 2025 melampaui target Rp1.931,2 triliun.

Tekanan terhadap rupiah dinilai lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

Josua menyebut empat sumber utama tekanan global pada 2026 yaitu ketegangan geopolitik, ketidakpastian perang dagang, arah suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.

“Jadi, level rupiah di atas Rp17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dollar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah,” kata Josua.

Meski tertekan, peluang penguatan rupiah masih terbuka jika tekanan global mereda.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung