Berita, Timur Tengah

Gagal di Iran, Hancur di Lebanon! Media Israel: Hizbullah Jadi Kuburan IDF

Repelita.id

28 April 2026 19:23 WIB

Gagal di Iran, Hancur di Lebanon! Media Israel: Hizbullah Jadi Kuburan IDF
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Media Israel terkemuka, Maariv, mengeluarkan pengakuan mengejutkan bahwa negaranya gagal total di front Iran dan kini hancur di Lebanon.

Analis militer Avi Ashkenazi menulis dengan blak-blakan pada 27 April 2026 bahwa Hizbullah berhasil menjadikan tanah Lebanon sebagai ladang kuburan bagi tentara Israel.

ADVERTISEMENT

"Selama komandan Hizbullah masih bebas berkeliaran di Beirut dan Lembah Bekaa, Israel sedang mencatatkan kekalahan telak," tulis Ashkenazi dalam analisisnya yang berjudul mengerikan.

Front utara Lebanon terbukti jauh lebih mematikan dibandingkan front timur melawan Iran yang sudah mencapai gencatan senjata sementara.

Sejak 28 Februari 2026, total korban luka di Israel mencapai 8.497 orang dengan 596 cedera terjadi setelah gencatan senjata diberlakukan.

Artinya, meskipun tembak-menembak rudal dengan Iran sudah dihentikan, pertempuran darat di Lebanon tetap berlangsung dan terus menumpuk mayat tentara Israel.

Ashkenazi tidak main-main menyalahkan pemerintahan Netanyahu yang dianggap lumpuh total dalam mengelola perang di tiga front sekaligus.

"Level politik lumpuh dan tidak mampu mengelola perang di berbagai front Lebanon, Gaza, dan Iran," tegas Ashkenazi.

Ia mengungkap bahwa Kepala Staf Eyal Zamir justru diam seribu bahasa sementara komandan lapangan sudah mencapai tingkat keputusasaan yang sangat tinggi terhadap manajemen perang oleh level politik.

"Yang menentukan gerakan kita saat ini tampaknya di satu sisi adalah Donald Trump, dan di sisi lain, Iran," ujar Ashkenazi dengan nada frustrasi.

Rahasia di balik kegagalan Israel di Lebanon adalah strategi baru Hizbullah yang didesain ulang oleh pasukan elite IRGC.

Usai perang 2024 yang melumpuhkan banyak komandan Hizbullah, Iran mengirimkan sekitar seratus perwira ke Lebanon untuk membangun kembali struktur komando militer.

Mereka mengubah komando yang tadinya terpusat menjadi sistem desentralisasi dengan sel-sel kecil independen yang kebal terhadap serangan penggal ular.

Hasilnya, sejak 22 April 2026, pejuang perlawanan telah melakukan sekitar 25 serangan dengan roket dan drone ke pemukiman utara Israel.

Salah satu yang paling mematikan terjadi di desa Taybeh, dimana satu tentara Israel tewas dan lima lainnya luka parah akibat drone pengebom.

Sebaliknya, pasukan Israel hanya mampu melakukan tindakan terbatas di sepanjang perbatasan tanpa ada upaya memperluas operasi ke wilayah Lebanon.

Ashkenazi membandingkan dengan perang sebelumnya ketika Israel mampu menimbulkan kerugian berat bagi musuh.

Sekarang justru kebalikannya, para pejuang perlawanan beroperasi lebih bebas di seluruh Lebanon, dari Beirut hingga Lembah Bekaa.

Perbedaan interpretasi gencatan senjata semakin memperumit situasi karena Netanyahu menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak termasuk Lebanon.

"Saya mendukung keputusan Trump, tetapi gencatan senjata dua minggu itu tidak termasuk Lebanon," tegas Netanyahu.

Presiden Trump mengonfirmasi hal ini dengan alasan singkat "Karena Hizbullah. Itu urusan terpisah."

Bagi Iran, ini adalah pengkhianatan karena Teheran mengartikan gencatan senjata harus bersifat komprehensif mencakup semua front.

Iran mengultimatum bahwa jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan, mereka akan keluar dari perjanjian gencatan senjata dengan AS.

Sementara itu, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem dengan tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel.

"Kami dengan tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel, dan mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon atau diri mereka sendiri," kata Qassem.

Di tengah chaos ini, delegasi Iran bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 27 April 2026.

Putin berjanji bahwa Rusia akan melakukan "segala sesuatu" untuk melayani kepentingan Iran dan sekutunya di kawasan.

Dukungan penuh Moskow membuat Iran dan Hizbullah semakin percaya diri menghadapi tekanan Israel dan Amerika.

Ashkenazi memperingatkan bahwa selama fakta ini masih terjadi, Israel sedang menuju kekalahan yang tidak terelakkan.

Para analis militer khawatir bahwa Hizbullah akan terus mengintensifkan operasinya dengan memanfaatkan keterbatasan gerak tentara Israel yang terikat oleh keputusan politik.

"Ini adalah kekalahan telak yang sedang dicatatkan Israel di Lebanon, sementara Iran masih utuh di timur," pungkas Ashkenazi.

Bagi Netanyahu, ini adalah ujian terbesar tanpa kemenangan mudah dan tanpa pintu keluar cepat dari kuburan terbuka bernama Lebanon selatan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung