Berita, Timur Tengah

Gagal Perundingan Islamabad, Iran Ancam Tidak Ada Pelabuhan di Teluk yang Aman jika Diserang AS

Repelita.id

14 April 2026 17:22 WIB

Gagal Perundingan Islamabad, Iran Ancam Tidak Ada Pelabuhan di Teluk yang Aman jika Diserang AS
Foto: Istimewa

Repelita Teluk Persia - Gagalnya perundingan di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan 11-12 April 2026 membuat konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz secara sepihak.

Militer Iran dengan tegas menyatakan bahwa ancaman apa pun terhadap pelabuhannya akan memicu respons regional yang lebih luas, bahkan menyebut tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman yang akan tetap aman jika fasilitas maritimnya menjadi sasaran.

ADVERTISEMENT

Selat Hormuz yang merupakan jalur air sempit selebar 33 kilometer di ujung Teluk Persia menjadi urat nadi ekonomi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati koridor ini setiap hari sebelum perang pecah.

Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, dengan tegas menyampaikan bahwa keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun.

Kapal-kapal yang terkait dengan pasukan musuh tidak diizinkan melintasi Selat Hormuz, sementara kapal lain mungkin dapat terus melintas dengan syarat mematuhi peraturan yang ditetapkan angkatan bersenjata Republik Islam.

Teheran akan menerapkan mekanisme permanen untuk mengendalikan Selat Hormuz bahkan setelah krisis terselesaikan, sebuah perubahan fundamental yang menandakan penguasaan atas jalur strategis ini sebagai kunci kelangsungan hidup rezim.

Jika keamanan pelabuhan Republik Islam terancam, maka tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman yang akan tetap aman, ancaman yang mencakup Dubai di UEA, Doha di Qatar, serta pelabuhan di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk segera memblokade Selat Hormuz setelah perundingan maraton di Islamabad gagal total, dengan perintah berlaku efektif mulai Senin, 13 April 2026.

Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan akan mulai menerapkan blokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran, termasuk semua pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan kekecewaannya melalui unggahan di platform X pada Senin, 13 April 2026, dengan menulis bahwa dalam pembicaraan intensif pada tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan itikad baik untuk mengakhiri perang.

Sumber:

@aragchi di X - unggahan 13 April 2026

"Cuitan: Tetapi ketika hanya beberapa senti saja dari 'MoU Islamabad', kami dihadapkan sikap maksimalisme, pergeseran tujuan, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang diambil AS. Niat baik menghasilkan niat baik. Permusuhan menimbulkan permusuhan."

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang memimpin delegasi di Islamabad menyatakan bahwa ancaman baru Donald Trump tidak akan berdampak pada bangsa Iran dan mereka tidak akan tunduk pada ancaman apa pun.

Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Shahram Irani bahkan menyebut ancaman Trump sebagai menggelikan dan lucu karena para pria pemberani angkatan laut Iran terus memantau semua pergerakan tentara Amerika.

Pasukan Garda Revolusi (IRGC) pada Senin, 13 April 2026 memperingatkan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman setelah AS memberlakukan blokade.

Perundingan Islamabad yang berlangsung selama 21 jam antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Qalibaf gagal karena AS menuntut Iran untuk selamanya meninggalkan ambisi nuklir dan menghentikan pendanaan untuk Hamas, Hizbullah, serta Houthi.

Lebih dari 15 kapal perang dan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang mengoperasikan jet tempur siluman F-35B Lightning II berada di dekat perairan Iran, sementara Iran mengklaim telah berhasil mengusir kapal perusak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.

Harga minyak mentah Brent melonjak melewati angka 102 dolar AS per barel, sementara sekitar 1.900 kapal komersial masih tertahan di sekitar Selat Hormuz sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026 lalu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung