Berita, Nasional

Gatot Nurmantyo Kecam Penjemputan Paksa Roy Suryo dan dr. Tifa, Dinilai Tak Beradab Dan Langgar Etika Kemanusiaan

Repelita.id

27 June 2026 00:48 WIB

Gatot Nurmantyo Kecam Penjemputan Paksa Roy Suryo dan dr. Tifa, Dinilai Tak Beradab Dan Langgar Etika Kemanusiaan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kasus penjemputan paksa terhadap Roy Suryo dan dr. Tifa menuai reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Gatot Nurmantyo menyoroti prosedur penangkapan yang dinilai sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan serta etika hukum yang berlaku di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Melalui diskusi yang dikutip dari akun YouTube Bang Edy Chanel, para tokoh ini mengecam tindakan aparat yang dianggap arogan dan tidak beradab.

Proses penjemputan paksa yang dilakukan tanpa memberikan kesempatan kepada objek hukum untuk sekadar mengganti pakaian yang dinilai sebagai bentuk pembukaan martabat.

”Ketiadaan adab dalam mengelola kemajuan akan melahirkan sosok monster yang berbahaya bagi martabat manusia,” ujar narasumber dalam forum diskusi tersebut.

Gatot bersama Roy Suryo dan dr. Tifa secara kolektif mengkritik akan adanya standar ganda dalam penegakan aturan di lapangan yang sering merugikan pihak-pihak kritis.

Tindakan tersebut dianggap mencederai privasi keluarga dan menunjukkan pengabaian terhadap nasihat purnawirawan senior mengenai prosedur hukum yang benar.

Mereka menegaskan bahwa suatu negara tidak seharusnya menggunakan kekuatan represif untuk membungkam kebebasan sipil dan suara-suara yang berseberangan.

Ketidakmauan institusi mengakui kesalahan dalam prosedur penangkapan menjadi bukti hilangnya nilai etis dalam pengambilan kebijakan publik saat ini.

Narasi manipulatif yang sering digunakan untuk menutupi kegagalan justru semakin memperlebar jurang kepercayaan antara masyarakat dan lembaga penegak hukum.

Bagi para tokoh ini, setiap tindakan negara seharusnya bertujuan untuk memuliakan umat manusia, bukan justru menjunjung tinggi warga negara dengan intimidasi.

Sejarah diyakini akan mencatat dengan tegas setiap pilihan individu di masa krisis, termasuk keberanian untuk tetap menjaga martabat dan adab di atas kekuasaan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung