Berita, Nasional

Gaya Pidato Meledak-ledak Presiden Dinilai Minim Empati dan Berisiko Terjebak dalam Ruang Gema Informasi

Repelita.id

14 June 2026 18:24 WIB

Gaya Pidato Meledak-ledak Presiden Dinilai Minim Empati dan Berisiko Terjebak dalam Ruang Gema Informasi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang kerap meledak-ledak di depan publik mendapat sorotan tajam dari peneliti bahasa, Kasri Riswadi.

Menurut Kasri, penggunaan nada tinggi dan sindiran tajam saat berpidato berisiko menjadi masalah komunikasi publik yang serius bagi pemerintah saat ini.

ADVERTISEMENT

Pada diri Presiden Prabowo Subianto, gaya ini terbentuk dari pengalaman panjang sebagai figur militer dan elit politik. Di satu sisi, ia menghadirkan kesan autentik dan apa adanya. Namun di sisi lain, ketika gaya pribadi itu bertemu dengan lingkungan kekuasaan yang minim koreksi, ia berpotensi menjadi sumber masalah komunikasi publik, ujar Kasri, Minggu (14/6/2026).

Peneliti tersebut menjelaskan bahwa pemimpin rentan terjebak dalam ruang gema yang hanya menyajikan informasi yang menyenangkan, sehingga kritik sering dianggap sebagai ancaman.

"Di sekitar pusat kekuasaan selalu ada kecenderungan menghadirkan yang menyenangkan telinga pemimpin. Kritik diterjemahkan sebagai serangan, ketidakpuasan publik dibaca sebagai ancaman politik. Akibatnya, pemimpin terjebak dalam ruang gema yang terus mengoleksinya sendiri," terangnya.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya suatu konteks, di mana masyarakat justru menangkap pidato tersebut sebagai bentuk kemarahan yang tidak berkaitan dengan kesulitan ekonomi sehari-hari.

Kasri juga mengingatkan bahaya kelelahan semantik, yakni kondisi di mana masyarakat menjadi kebal atau kehilangan empati karena terus-menerus disuguhi pesan bernada emosional oleh otoritas tertinggi negara.

“Akibatnya, ketika pemerintah benar-benar membutuhkan perhatian publik untuk isu-isu krisis ekonomi, bencana, atau keamanan, pesan itu berisiko tidak lagi mendapat resonansi yang memadai. Kalau semua isu dibicarakan dengan nada tinggi, tidak ada lagi isu yang dianggap benar-benar penting,” tambahnya.

Untuk memperbaiki informasi ekosistem, Kasri memberikan tiga rekomendasi utama, yakni memperluas sumber data, memperkuat kekuatan koreksi internal, serta mengembalikan marwah pidato kenegaraan sebagai instrumen pembangunan optimisme.

Ia menekankan bahwa kewibawaan seorang pemimpin sejati justru terpancar dari kemampuannya untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dengan cara yang paling tenang sekalipun.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung