Berita, Internasional

[GEGER] Blogger Menduga Pelayan di Jamuan Trump–China adalah Perwira Militer Penyamar, Sosok di Belakang Elon Musk Jadi Sorotan Dunia

Repelita.id

24 May 2026 21:58 WIB

[GEGER] Blogger Menduga Pelayan di Jamuan Trump–China adalah Perwira Militer Penyamar, Sosok di Belakang Elon Musk Jadi Sorotan Dunia
Foto: Istimewa

Repelita [Beijing] - Sebuah isu mencuat setelah pegiat media sosial Jennifer Zeng melontarkan tuduhan mengejutkan perihal adanya personel militer yang menyamar saat kunjungan Presiden Donald Trump ke ibu kota China.

Dugaan tersebut menyeruak usai ia mempublikasikan beberapa tangkapan layar dari acara jamuan kenegaraan yang diselenggarakan pihak berwenang China untuk menyambut rombongan delegasi Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

Melalui unggahan di platform X pada 24 Mei 2026, Zeng mengklaim seorang pelayan perempuan yang berdiri tepat di belakang Elon Musk sebenarnya adalah Mayor Cheng Cheng, seorang perwira aktif militer China yang disebut memiliki posisi penting dalam unit seremonial militer Beijing.

Wanita tersebut diduga merupakan bagian dari struktur militer yang ditugaskan dalam peran penyamaran selama rangkaian acara berlangsung guna memantau tamu penting.

Blogger tersebut bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa sosok itu mungkin saja menyimpan peralatan berbahaya tersembunyi di balik busana yang dikenakannya saat beroperasi di tengah acara resmi.

Pihak otoritas di Beijing hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi apa pun untuk merespons tudingan yang kadung menjadi perbincangan publik di dunia maya tersebut.

Klaim ini turut mengungkit kembali diskursus panjang mengenai upaya intelijen negara tersebut dalam melakukan pengawasan terhadap para diplomat, politisi asing, serta pimpinan perusahaan teknologi berskala global.

Berbagai lembaga intelijen dari negara Barat sering kali melontarkan peringatan bahwa pemerintah China aktif melakukan infiltrasi agen-agen mereka ke dalam berbagai lini, mulai dari diplomasi, bisnis, hingga sektor strategis teknologi.

Salah satu peristiwa yang sempat menyedot perhatian global di masa lalu adalah skandal mata-mata yang melibatkan sosok bernama Fang Fang, seorang wanita yang dituduh membangun jejaring pengaruh di kalangan politisi Amerika Serikat.

Walaupun kebenarannya belum terverifikasi secara hukum, para kritikus menilai bahwa pola diplomasi yang diterapkan Beijing terhadap tamu kenegaraan sering kali terselubung dengan agenda pengumpulan data intelijen secara terselubung.

Situasi ini pada hakikatnya menggambarkan betapa tajamnya tingkat ketidakpercayaan antara China dan kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam panggung geopolitik modern.

Jamuan makan kenegaraan dalam konteks saat ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai agenda seremoni diplomatik belaka.

Lokasi pertemuan tingkat tinggi justru dianggap sebagai area sensitif yang berpotensi dimanfaatkan untuk memantau gerak-gerik tamu, memahami pola perilaku tokoh penting, hingga membuka akses terhadap informasi rahasia.

Spekulasi pun berkembang bahwa staf pelayanan yang bertugas di lapangan mungkin sebenarnya memiliki tanggung jawab ganda yang mencakup pengamanan atau pengumpulan informasi rahasia di balik layar.

Namun, sangat penting untuk dicatat bahwa semua tuduhan yang disampaikan dalam kasus ini sama sekali belum memiliki bukti konkret yang valid.

Narasi tersebut bersumber dari pernyataan pribadi seorang blogger dan sejauh ini belum dikonfirmasi oleh badan intelijen resmi maupun lembaga independen mana pun.

Terlepas dari belum adanya pembuktian, isu ini terus menarik atensi publik mengingat tensi persaingan antara Amerika Serikat dan China yang terus memanas di berbagai bidang mulai dari ekonomi, kemiliteran, hingga keamanan siber.

Hubungan kedua negara besar ini kian renggang akibat serangkaian isu mulai dari perang dagang, perebutan dominasi teknologi, dinamika di Selat Taiwan, sampai ancaman peretasan sistem pertahanan.

Pihak Amerika Serikat dan sekutunya sudah berkali-kali melayangkan protes keras karena menduga adanya operasi intelijen global yang dijalankan untuk mencuri rahasia negara.

Tokoh seperti Elon Musk dianggap sebagai target strategis utama karena memiliki kendali atas teknologi krusial seperti kecerdasan buatan, jaringan satelit, kendaraan elektrik, serta sektor pertahanan antariksa.

Dalam setiap rangkaian kegiatan diplomatik berisiko tinggi, negara tuan rumah biasanya menerapkan prosedur pengamanan berlapis sehingga memicu dugaan bahwa personel keamanan negara bisa saja disusupkan sebagai staf pendukung acara.

Hingga kini, tuduhan yang dilayangkan Jennifer Zeng masih terbatas sebagai opini media sosial dan belum memiliki verifikasi independen dari pihak mana pun.

Tidak ditemukan bukti otentik yang mengonfirmasi bahwa pelayan tersebut adalah perwira militer aktif atau terlibat dalam aksi spionase secara nyata.(*)PERWIRA MILITER - Tangkap layar media sosial yang menunjukkan pelayan yang diduga memata-matai delegasi Amerika Serikat (AS) saat kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing. Pelayan perempuan yang berdiri tepat di belakang Elon Musk itu diduga adalah Mayor Cheng Cheng, seorang perwira aktif militer China yang disebut memiliki posisi penting dalam unit seremonial militer Beijing.

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung