Repelita Jakarta - Aktivis pergerakan nasional Syahganda Nainggolan mengungkapkan langkah diplomasinya demi menghindarkan dokter Tifa serta pakar telematika Roy Suryo dari ancaman jerat hukum.
Upaya tersebut ditempuh menyusul polemik analisis keaslian dokumen ijazah yang sempat memicu perdebatan luas di tengah publik.
ADVERTISEMENT
Langkah pengamanan itu dibeberkan langsung oleh Syahganda ketika hadir sebagai narasumber dalam siniar kanal YouTube Refly Harun yang disiarkan pada 3 Oktober 2026.
Dalam perbincangan tersebut, ia mengaku sengaja melakukan pendekatan khusus kepada kalangan ring satu Presiden Prabowo Subianto.
Tindakan itu diambil guna memastikan aktivitas riset dokumen yang dilakukan rekan-rekannya tidak berujung pada tindakan kriminalisasi atau penangkapan paksa.
Meski demikian, Syahganda tidak langsung menemui kepala negara, melainkan menitipkan pesan krusial melalui jajaran elite terdekat istana.
Ketika pakar hukum tata negara Refly Harun mendalami figur yang dimaksud, Syahganda menyebut kelompok lingkaran inti kekuasaan tersebut.
"Hanya empat orang yang dekat dengan Prabowo... yaitu Sjafrie Sjamsoeddin, Dasco, Teddy, dan Hashim (Djojohadikusumo). Itu yang sudah jelas the big four. Nah, kira-kira kalau sudah urusan begini pasti di antara mereka," ungkap Syahganda dalam siniar YouTube Refly Harun pada 3 Oktober 2026.
Saat Refly Harun mempertegas arah pertanyaan kepada Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Syahganda langsung membenarkan hal itu.
Kepada elite istana tersebut, ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan dokter Tifa murni merupakan sebuah kerja riset ilmiah terhadap dokumen yang sudah tersebar luas di dunia maya.
"Saya mengatakan bahwa ini Tifa sedang riset tentang satu ijazah yang di-upload oleh orang. Nah, dia membuktikan ijazah yang di-upload itu palsu. Di situ salahnya di mana dia melakukan riset? Akhirnya orang ini (elite Istana) paham, dan dia salah satu yang membela di depan Presiden Prabowo bahwa tidak perlu ada penangkapan terhadap Tifa dan teman-teman," papar Syahganda dalam siniar YouTube Refly Harun pada 3 Oktober 2026.
Ia menilai posisi dirinya yang berada di garis pinggir pemerintahan justru memberi keleluasaan untuk menyuarakan aspirasi serta membela kelompok kritis.
Upaya menjaga kebebasan berpendapat dipandang penting agar aktivitas riset independen tidak disikapi dengan cara-cara yang represif oleh penegak hukum.
Bagi Syahganda, kedekatan personal dengan penguasa sama sekali tidak boleh menghilangkan prinsip dasar untuk tetap bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan publik.
Saluran komunikasi yang ada dimanfaatkan secara maksimal demi menjamin ruang demokrasi serta perlindungan hukum bagi para pengkaji masalah sosial (*)
Editor: 91224 R-ID Elok