Berita, Nasional

Goodie Bag Istana Lenyap Jadi Titik Awal Sikap Kritis Penulis Tere Liye

Repelita.id

18 August 2026 17:01 WIB

Goodie Bag Istana Lenyap Jadi Titik Awal Sikap Kritis Penulis Tere Liye
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Penulis ternama Tere Liye membagikan pengalaman masa mudanya ketika berkesempatan menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara sewaktu menduduki bangku Sekolah Menengah Atas.

Kesempatan langka tersebut diraihnya bukan melalui jalur pemesanan umum, melainkan sebagai apresiasi atas prestasinya menjadi finalis ajang kompetisi karya ilmiah tingkat nasional.

ADVERTISEMENT

Para peserta terpilih menjalani serangkaian agenda padat di ibu kota selama rentang waktu dua pekan.

Agenda kegiatan tersebut mencakup sesi dialog langsung di ruang kerja bersama sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada era tersebut.

Para finalis juga mendapatkan jamuan makan eksklusif, kunjungan ke berbagai destinasi museum bersejarah, hingga menghadiri prosesi upacara bendera pagi dan sore di Istana Negara.

Suasana peringatan kemerdekaan kala itu berlangsung di penghujung masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan penyambutan yang sangat meriah dari seluruh tamu undangan.

Namun, momen paling berkesan bagi sang penulis justru mewarnai akhir acara ketika tas cenderamata milik pribadi mendadak hilang dari tempat duduknya.

Tas cenderamata yang dibagikan panitia saat memasuki area Istana Negara tersebut diletakkan sejenak di atas kursi ketika dirinya keluar tenda untuk berswafoto bersama rekan finalis lainnya.

Saat kembali dalam kurun waktu kurang dari dua menit, tas cenderamata yang berada di area tempat duduk tamu undangan terhormat tersebut sudah lenyap.

Peristiwa tersebut menyisakan kekecewaan mendalam sepanjang perjalanan menuju tempat penginapan, terlebih saat menyaksikan peserta lain membongkar bingkisan mereka di dalam bus.

Insiden kehilangan tersebut menjadi bahan perenungan baginya mengenai karakter dasar sebagian oknum masyarakat yang cenderung mengambil hak orang lain meskipun sudah memiliki bagian sendiri.

Pengalaman masa sekolah itu pada akhirnya menjadi titik balik yang membentuk sikap kritis Tere Liye terhadap berbagai persoalan publik hingga saat ini.

Kisah penuturan masa lalu tersebut sebagaimana diunggah oleh akun Facebook Tere Liye pada tanggal 17 Agustus 2024:

“Saya pernah ikut 17 Agustusan di istana negara.

Waktu saya masih SMA.

Advertisements

Bukan dari jalur “war”, tapi jalur lomba karya ilmiah. Duluuu, finalis-finalis lomba begini diundang 17-an. Selama 2 minggu, mengikuti banyak rangkaian kegiatan di Jakarta. Ketemu menteri-menteri, ketemu sama Mendiknas zaman itu, sama Menteri ESDM (bukan bahlil). Bisa nanya-nanya, diskusi langsung di ruang kerjanya, foto-foto, berasa elit sekali. Ikut jamuan makan-makan, mengunjungi museum-museum. Termasuk acara 17 di Istana. Pagi dan sore, lengkap.

Zaman itu Soeharto di ujung-ujung kejayaannya. Wah, wah, saat dia masuk ruangan, dahsyat sekali efeknya. Seluruh hadirin berdiri, tepok tangan sekencang-kencangnya.

Sayangnya, momen yang paling membekas, yang saya ingat adalah: saya kehilangan goodie bag acara 17an. Dibagikan saat masuk, saya pegang erat-erat. Nah, selesai upacara, saya mau foto-foto bareng finalis, pakai kamera zaman bahuela. Saya tinggal itu goodie bag paling hanya 1-2 menit di kursi, karena saya mau foto-foto di luar tenda. Astagfirullah, pas balik ke kursi saya, lenyap itu goodie bag.

Sedih kan.

Padahal tenda saya itu isinya selain finalis lomba karya ilmiah, adalah orang-orang terhormat lainnya. Dan semua dapat. Ternyata, masih ada yang ngembat goodie bag di atas kursi.

Saya pulang ke penginapan finalis karya ilmiah dengan sedih. Di bus, saat yang lain asyik memeriksa isi goodie bag, saya cuma bisa nonton. 😞

Begitulah. Indonesia gitu loh. Jiwa maling itu jangan-jangan sudah jadi local wisdom. Entah apa yang dipikirkan oleh orang yang ngembat goodie bag saya. Dia mesti sudah punya loh goodie bag sendiri, tapi merasa kurang, dia bawa juga yang ‘nganggur’ di kursi. Apalagi urusan titik dapur MBG yang 1,8 M per tahun cuannya. Apalagi proyek bangun kopdes merah putih yang per bangunan sekian ratus juta. Apalagi pengadaan ini dan itu yang triliunan.

Tapi, setelah saya pikir-pikir. Kalau dulu sudah bisa saya viralkan, palingan saya juga yang kena caci netizen: “makanya, jangan ditinggal dong!” , “Duh ini anak SMA kok bego banget, dijaga goodie bag-nya. Biar nggak dimaling.”

Tidak apalah. Ada hikmah lain kok. Sejak saat itulah Tere Liye jadi kritis dalam banyak hal, gara-gara goodie bag 🙂”

Refleksi atas kejadian masa lalu tersebut membuka pandangan baru dalam menyikapi berbagai fenomena sosial di tanah air. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung