Repelita [Jakarta] - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengusaha penggilingan padi yang disebut meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan hingga pekerja pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram memunculkan spekulasi.
Bahkan belakangan orang nomor satu di Indonesia itu disebut perlu melakukan pemeriksaan kesehatan kejiwaan.
ADVERTISEMENT
Cendekiawan Nahdlatul Ulama Gus Hilmi Firdausi mengatakan bahwa kesalahan dalam berbicara di depan publik memang bisa saja terjadi.
Terutama bagi seseorang yang memiliki intensitas tinggi dalam menyampaikan gagasan.
Namun persoalannya menjadi berbeda apabila kekeliruan tersebut terjadi berulang kali.
Ia mengingatkan pentingnya introspeksi bagi seorang pembicara agar kualitas komunikasi publik terus diperbaiki.
Ia menyebut dirinya terbiasa berdakwah mengisi seminar hingga menjadi narasumber di berbagai forum sehingga memahami bahwa kesalahan dalam menyampaikan sesuatu merupakan hal yang mungkin terjadi.
"Saya ini pendakwah, pengisi seminar, dosen tamu, pengisi acara diskusi juga di TV," ujar Gus Hilmi, Senin (17/8/2026).
Gus Hilmi menegaskan salah ucap atau slip of tongue tidak selalu harus dipandang sebagai persoalan besar apabila hanya terjadi sesekali.
"Jadi slip tounge sekali dua kali itu hal yang lumrah," ucapnya.
Meski demikian Gus Hilmi menilai kondisi berbeda ketika kesalahan dalam menyampaikan informasi terus berulang dalam berbagai kesempatan.
Pembicara yang kerap mengalami hal tersebut perlu mengevaluasi cara menyampaikan informasi kepada publik.
"Tapi kalau tiap kali bicara di publik selalu terulang, artinya kita selaku pembicara harus introspeksi diri," tukasnya.
Gus Hilmi menekankan pentingnya upaya memperbaiki kemampuan komunikasi agar pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat lebih akurat dan tidak menimbulkan polemik.
"Nerusaha memperbaiki kualitas public speaking kita ke depan," kuncinya.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Susanah dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI.
Dalam kesempatan tersebut Prabowo menyampaikan kondisi Susanah yang disebut berasal dari Kabupaten Bogor dan bekerja sebagai buruh harian.
"Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor," ujar Prabowo diiringi tepuk tangan para pejabat negara dan tamu undangan.
"Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah 700 ribu rupiah per kilogram," tambahnya.
Prabowo juga menyebut Susanah mendapatkan dukungan melalui sejumlah program bantuan pemerintah.
"Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," jelasnya.
Dalam pidato yang sama Prabowo turut memperkenalkan sosok lainnya yakni Margaret Lita Roy dari Kupang Nusa Tenggara Timur.
"Hadir pula Ibu Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur," ucap Prabowo.
"Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah menyenyam pendidikan," sambung dia.
Prabowo menyebut Margaret pada usia 38 tahun masih berdagang sekaligus merawat tantenya yang telah berusia 80 tahun.
"Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantunya yang sudah berusia 80 tahun," imbuhnya.
Menurut Prabowo bantuan sosial yang diterima Margaret menjadi salah satu penopang keluarganya.
"Bantuan sosial atensi berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya," tandasnya.
Lebih jauh Prabowo bilang bahwa kehadiran negara semestinya memperkuat perjuangan masyarakat bukan menggantikan kerja keras mereka.
"Negara hadir bukan untuk menggantikan kerja keras rakyat negara hadir agar kerja keras rakyat tidak sia-sia," kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok