Berita, Nasional

Gus Maftuh Minta Publik Pahami Secara Utuh Buku Islam Ala Prabowo Dan Tak Terprovokasi

Repelita.id

05 September 2026 23:53 WIB

Gus Maftuh Minta Publik Pahami Secara Utuh Buku Islam Ala Prabowo Dan Tak Terprovokasi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Polemik seputar peluncuran sebuah karya literatur yang membahas dimensi religiusitas pimpinan tertinggi negara kini mendapat tanggapan sejuk dari kalangan pemuka agama.

Seorang tokoh ulama asal Surabaya mengimbau khalayak luas agar menelaah kandungan lembaran pemikiran tersebut secara komprehensif guna menghindari kesalahpahaman penafsiran.

ADVERTISEMENT

Langkah tabayun dinilai sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak pada diksi luar dan langsung membuat kesimpulan keliru mengenai munculnya sekte keagamaan baru.

Gus Maftuh yang juga menjabat pimpinan pusat Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia menegaskan bahwa ulasan tersebut murni memotret implementasi nilai spiritualitas personal seorang tokoh.

“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh tertulis pada Sabtu (5/9).

Karya tulis yang diterbitkan bersama lembaga amil zakat dan dewan ulama tersebut sejatinya merangkum rekam jejak pengabdian sang presiden dari sudut pandang religius.

Substansi materi di dalamnya membedah bagaimana prinsip keadilan sosial, kerukunan, serta pembelaan terhadap kaum lemah diwujudkan dalam kebijakan tata kelola pemerintahan.

“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Kehadiran narasi ini dipandang strategis dalam merawat tenun kebangsaan di tengah formasi masyarakat tanah air yang sangat heterogen dan multikultural.

Sifat luhur ajaran spiritual universal sejatinya harus diposisikan sebagai motor penggerak stabilitas nasional, bukan pemantik gesekan sosial yang merugikan publik.

“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Masyarakat juga diingatkan untuk membentengi diri dari sebaran konten manipulatif serta potongan gambar sindiran di ruang digital yang bertujuan memperkeruh suasana.

Diskusi sehat berbasis argumen ilmiah jauh lebih terhormat ketimbang melontarkan tuduhan tanpa dasar di platform jejaring sosial demi menjatuhkan reputasi pihak lain.

“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.

Bobot ilmiah dari produk literasi ini diperkuat oleh sumbangsih pemikiran dari deretan tokoh intelektual muslim, menteri kabinet, hingga pimpinan lembaga tinggi legislatif.

Keberagaman latar belakang para kontributor tulisan tersebut membuktikan bahwa pemetaan karakter religiusitas sang tokoh utama dilakukan lewat kacamata objektif yang multi-perspektif.

“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.

Pada akhirnya, ruang literatur ini diharapkan memicu dialog konstruktif mengenai penyelarasan antara komitmen nasionalisme dan nilai luhur spiritualitas demi kemakmuran bersama.

Semua elemen bangsa berkewajiban merawat kedamaian internal serta menjadikan persatuan sebagai fondasi utama dalam mengawal lompatan kemajuan peradaban indonesia.

“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” pungkas Gus Maftuh.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung