Repelita Jakarta - Dua kapal tanker milik Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di Selat Hormuz di tengah konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Indonesia terus berupaya mengamankan izin bagi kedua kapal tersebut untuk melintasi jalur strategis yang kini menjadi area berisiko tinggi akibat ketegangan militer.
ADVERTISEMENT
Dalam konferensi pers pada Kamis, 16 April 2026, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menegaskan koordinasi intensif dengan otoritas Iran terus dilakukan.
Kami telah secara intensif berkoordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran untuk menindaklanjuti sinyal positif dari pemerintah Iran pada pertengahan Maret, ujar Vahd.
Meski demikian, kedua kapal tanker Indonesia tersebut masih tertahan lebih dari 40 hari sejak pembatasan lalu lintas diberlakukan oleh Iran di Selat Hormuz.
Kabar soal dua kapal Pertamina tersebut semakin mencuat setelah ceramah pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Gus Miftah mengklaim bahwa dua kapal tanker Pertamina berhasil lolos melewati Selat Hormuz lantaran hasil diplomasi Presiden Prabowo Subianto.
Hebatnya Pak Prabowo, di saat kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak atas diplomasi Pak Prabowo boleh melewati Selat Hormuz, itu salah satu penyebab BBM Indonesia tidak naik, kata Gus Miftah dalam ceramahnya.
Sementara itu, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan bahwa dua kapal tanker Pertamina dalam waktu dekat akan segera dapat melintasi Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Kaesang usai menerima Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kantor DPP PSI pada Kamis, 16 April 2026.
Tadi juga sudah disampaikan akan segera bisa, karena hanya tinggal mengurus sedikit technical issue yang akan segera selesai, ujar Kaesang.
Dalam pertemuan tersebut, Kaesang juga menyampaikan ucapan selamat kepada Iran atas pemimpin barunya yakni Mojtaba Khamenei.
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menyoroti nasib kapal tanker Indonesia yang hingga kini belum bisa melintas dan menduga hal ini terkait dengan posisi diplomasi Indonesia.
Masih dipertanyakan kenapa kapal tanker Indonesia belum bisa melintas, ini mungkin dampak dari kebijakan luar negeri kita, tutur Faisal.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok