Berita, Nasional

Hadi Saputra: Pengunduran Diri Perry Warjiyo dari Gubernur BI dengan Alasan Pribadi Itu 99 Persen Omong Kosong

Repelita.id

28 July 2026 21:29 WIB

Hadi Saputra: Pengunduran Diri Perry Warjiyo dari Gubernur BI dengan Alasan Pribadi Itu 99 Persen Omong Kosong
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Keputusan mengejutkan terkait mundurnya pimpinan tertinggi otoritas moneter tanah air memantik keraguan besar dari kalangan analis investasi asing.

Pemberhentian jabatan strategis tersebut dinilai sarat akan motif tersembunyi meski secara administratif dikemas menggunakan alasan normatif kesehatan maupun urusan privat.

ADVERTISEMENT

Kritik tajam atas peristiwa penarikan diri tersebut diungkapkan secara terbuka melalui platform komunikasi digital pribadi.

Melalui akun media sosial X miliknya, @ETHadiSaputra pada Selasa (28/7/2026), ia menuliskan pandangan kritis berikut.

Alasan resminya? Klasik: alasan pribadi. Tapi faktanya, dia mundur tepat saat Rupiah babak belur nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS akibat kekacauan global.

Pernyataan bernada diplomatis yang kerap disampaikan para pejabat tinggi dinilai tidak mencerminkan realitas krisis moneter yang sedang mendera perekonomian nasional saat ini.

Mari kita bicara jujur dan buang jauh-jauh bahasa diplomatis yang membosankan, ucapnya.

Tindakan meninggalkan pos kepemimpinan di tengah terpaan badai ekonomi global dianalogikan sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab atas situasi darurat.

Ketika seorang gubernur bank sentral—baik di Indonesia, Turki, Argentina, atau Inggris—tiba-tiba mundur di tengah jalan, alasan pribadi atau kesehatan itu 99% adalah omong kosong, terangnya.

Institusi penjaga stabilitas keuangan negara seharusnya bertindak sebagai benteng pertahanan terakhir demi melindungi daya beli masyarakat luas dari kejatuhan nilai tukar.

Jika keturunan mundur saat ekonomi sedang guncang, itu bukan sekadar pergantian jabatan.

Itu adalah sinyal darurat bahwa sistem ekonomi kita sedang sekarat dan benteng pertahanan itu sudah jebol, jelasnya.

Tiga skenario kedaruratan diidentifikasi sebagai pemicu utama mengapa para petinggi otoritas moneter dunia memilih meletakkan jabatan ketimbang menjadi tumbal kebijakan.

Tekanan intervensi kepentingan kekuasaan politik menduduki urutan pertama faktor pendorong mundurnya pejabat independen dari kursi kepemimpinan lembaga keuangan.

Tapi faktanya? Saat pemerintah bokek karena salah urus anggaran atau proyek mercusuar, mereka panik.

Pemerintah populis akan memaksa bank sentral mencetak uang secara ugal-ugalan atau menurunkan suku bunga demi menyenangkan pemilih, ungkapnya.

Penolakan terhadap kebijakan moneter yang menyimpang dari kaidah akademis kerap berujung pada pengucilan birokrat hingga berujung pada pemaksaan mundur secara halus.

Akhirnya, mereka dipaksa mundur.

Ini adalah pembunuhan berencana terhadap profesionalisme, di mana akal sehat ekonomi selalu kalah oleh syahwat kekuasaan politik jangka pendek, paparnya.

Faktor pemicu berikutnya berkaitan dengan upaya menyelamatkan diri dari posisi sebagai pihak yang disalahkan akibat hantaman krisis moneter global.

Ketika negara adidaya seperti Amerika Serikat menaikkan suku bunga demi menyelamatkan diri mereka sendiri, dampaknya seperti tsunami yang menghantam negara berkembang.

Mata uang lokal langsung terjun bebas, jelasnya.

Ketiadaan instrumen memadai untuk meredam arus balik modal asing memaksa otoritas moneter menguras cadangan devisa hingga titik darah penghabisan.

Begitu cadangan devisa habis dan mata uang tetap hancur, pemerintah dan publik langsung menuding sang gubernur sebagai penyebab kegagalan.

Mundur adalah satu-satunya cara menyelamatkan muka sebelum mereka dijadikan kambing hitam tunggal dari sistem keuangan global yang memang sudah bobrok dari awal, paparnya.

Dugaan adanya upaya penutupan borok institusional serta pencegahan kepanikan pasar keuangan massal menjadi motif penutup yang dinilai paling kotor.

Sering kali, bauran kebijakan yang dibanggakan bank sentral sebenarnya menciptakan gelembung ekonomi yang rapuh, imbuhnya.

Langkah evakuasi dini sengaja diambil guna meredam potensi pelarian modal raksasa serta menghindari jatuhnya kepercayaan publik terhadap perbankan nasional.

Pengunduran diri mendadak ini adalah rem darurat kosmetik, terangnya.

Tindakan taktis tersebut diyakini bertujuan tunggal untuk meredam gejolak psikologis pasar agar para pemodal besar tidak menarik dananya secara serentak.

Memutus rantai kepanikan biar investor tidak kabur massal capital flight dan masyarakat tidak serentak menarik uangnya di bank bank rush, pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung