Repelita [Beijing] - Sebuah kabar menghebohkan muncul dari pengamat independen terkait dugaan praktik intelijen yang melibatkan personel militer China dalam menyamar sebagai staf pelayan saat kunjungan Presiden Donald Trump ke China.
Spekulasi ini mencuat luas setelah seorang blogger bernama Jennifer Zeng menyebarkan sejumlah bukti visual yang diambil dari jamuan kenegaraan resmi yang diadakan pemerintah China untuk menyambut rombongan delegasi Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahan pada 24 Mei 2026, Zeng melontarkan klaim kontroversial bahwa seorang pelayan perempuan yang terlihat berdiri tepat di belakang Elon Musk sejatinya adalah Mayor Cheng Cheng.
Sosok tersebut diidentifikasi sebagai perwira aktif dari militer China yang diduga memegang jabatan strategis di lingkungan unit seremonial militer di Beijing.
Ia turut menyoroti bahwa sejumlah foto yang memperlihatkan wanita berseragam militer tersebut telah tersebar masif di berbagai platform media sosial lokal China selama kurun waktu tertentu.
Dalam narasi tambahan yang diunggahnya, Zeng bahkan melontarkan dugaan bahwa oknum tersebut mungkin saja membawa senjata berbahaya yang disembunyikan di balik gaun merah yang ia kenakan saat bertugas di lokasi acara.
Hingga saat ini, belum ditemukan bukti konkret atau verifikasi dari pihak independen yang dapat memastikan kebenaran dari segala klaim yang diajukan oleh blogger tersebut.
Pemerintah China sendiri hingga detik ini masih bersikap diam dan belum memberikan pernyataan resmi apa pun terkait tuduhan spionase yang menyasar tata kelola acara kenegaraan mereka.
Peristiwa ini kembali memicu diskusi tajam mengenai dugaan aktivitas mata-mata yang diarahkan kepada pejabat negara asing, tokoh politik Barat, maupun para eksekutif perusahaan teknologi global terkemuka.
Sejumlah badan intelijen Barat selama bertahun-tahun memang sering melayangkan tudingan terhadap Beijing yang disebut kerap menjalankan operasi pengumpulan rahasia dengan menyusupkan agen ke dalam lingkungan diplomatik dan bisnis.
Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik sebelumnya adalah dugaan operasi intelijen yang melibatkan Fang Fang, seorang warga negara China yang dituduh mendekati tokoh politik Amerika Serikat untuk kepentingan pengaruh.
Meskipun dugaan tersebut belum pernah terbukti secara hukum, kalangan pengkritik tetap meyakini bahwa pendekatan diplomasi China terhadap tamu mancanegara sering kali disisipi dengan agenda pengawasan dan pengumpulan intelijen secara tersembunyi.
Kondisi ini pada dasarnya mencerminkan tingginya tingkat kecurigaan yang menyelimuti hubungan antara China dan berbagai negara Barat, khususnya dalam interaksi dengan Amerika Serikat.
Dalam tata cara diplomasi kontemporer, acara makan bersama atau seremoni kenegaraan kini tidak lagi sekadar dilihat sebagai formalitas belaka untuk menyambut tamu kehormatan.
Lokasi-lokasi pertemuan tersebut kini dianggap sangat rentan untuk dimanfaatkan sebagai sarana pengumpulan data strategis, memantau pola perilaku tamu, sekaligus membangun akses terhadap individu-individu berpengaruh.
Tidak mengherankan jika muncul dugaan bahwa staf pelayanan yang tampak biasa saja bisa jadi mengemban misi khusus di balik layar, termasuk pemantauan keamanan atau pengumpulan data rahasia.
Penting untuk dipahami oleh masyarakat bahwa seluruh tuduhan dalam kasus ini belum memiliki bukti yang valid untuk dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Seluruh klaim tersebut saat ini hanya berpijak pada opini seorang blogger dan belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah, media independen, maupun lembaga intelijen negara mana pun.
Namun, isu semacam ini tetap menarik atensi khalayak mengingat tensi hubungan antara Amerika Serikat dan China yang terus memanas akibat persaingan di bidang teknologi, ekonomi, kemiliteran, serta keamanan siber.
Hubungan Washington dan Beijing dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami kemunduran akibat konflik dagang, perlombaan penguasaan teknologi, isu Taiwan, hingga sengketa keamanan siber.
Amerika Serikat bersama para sekutunya secara konsisten menuduh pihak China menjalankan operasi intelijen global guna mengamankan informasi politik, militer, dan rahasia teknologi.
Tokoh seperti Elon Musk dianggap sebagai target yang sangat strategis karena akses langsung yang dimilikinya terhadap teknologi penting, mulai dari kecerdasan buatan, satelit, kendaraan elektrik, hingga industri pertahanan luar angkasa.
Pada setiap penyelenggaraan acara diplomatik tingkat tinggi, negara tuan rumah biasanya menjalankan pengamanan dengan prosedur yang sangat ketat di berbagai akses masuk.
Oleh karena itu, muncul spekulasi di kalangan pengamat bahwa sebagian dari staf yang bertugas di lokasi acara bisa saja merupakan personel yang berasal dari unsur keamanan negara.
Sampai saat ini, tuduhan yang dilayangkan oleh Jennifer Zeng masih sebatas opini di media sosial dan belum terverifikasi oleh pihak luar.
Hingga kini tidak ada bukti resmi yang menunjukkan bahwa pelayan tersebut adalah perwira militer aktif atau terlibat dalam aktivitas spionase terhadap para delegasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok