Repelita Jakarta - Catatan peringatan masa lalu mengenai ancaman krisis iklim global yang pernah dilontarkan oleh salah satu tokoh politik senior tanah air kembali menuai sorotan luas di tengah masyarakat.
Ulasan mendalam mengenai rekam jejak peringatan ekologis tersebut dibagikan secara terbuka melalui akun @gunromli pada tanggal 1 september 2026 yang mengunggah kembali narasi penting terkait bencana alam.
ADVERTISEMENT
"Prediksi Ibu Megawati Soal Banjir Luapan Danau Glasial (GLOF) di Himalaya Sembilan tahun lalu, tahun 2017, dalam sebuah forum diskusi lingkungan hidup bersama Al Gore, Ibu Megawati Soekarnoputri menyampaikan sesuatu yang hari ini terasa seperti nubuat. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Bhutan, negeri kecil di kaki Pegunungan Himalaya, dan tentang gletser-gletser kuno yang mulai retak."
Pemaparan historis tersebut menegaskan bahwa perhatian terhadap isu perubahan iklim global telah disuarakan sejak lama jauh sebelum bencana besar benar-benar terjadi di kawasan pegunungan tinggi dunia.
Keterangan lanjutan mengenai situasi pencairan lapisan es raksasa di wilayah kutub turut dijabarkan secara rinci melalui unggahan berikutnya dari pemilik akun @gunromli.
"Es di kutub utara mencair. Bukan seperti es krim yang meleleh, tetapi pecah terpotong-potong," katanya, menggambarkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar metafora cuaca. Yang disampaikan Ibu Megawati bukan kekhawatiran kosong. Ia menyebut istilah ilmiah yang saat itu masih asing di telinga banyak orang Indonesia: "glacial lake outburst flood", atau banjir akibat jebolnya bendungan alami danau glasial."
Istilah ilmiah mengenai ancaman runtuhnya bendungan es alami tersebut menjadi bukti kuat atas ketajaman analisis serta kepedulian mendalam terhadap mitigasi bencana internasional.
Penjelasan perihal daya tampung danau penampung air lelehan gletser yang berpotensi memicu malapetaka besar diungkapkan secara terperinci melalui unggahan lanjutan dari akun @gunromli.
Ia menjelaskan bagaimana danau-danau yang terbentuk dari lelehan gletser bisa menampung air dalam jumlah raksasa, sampai akhirnya tanggul alami itu tak sanggup lagi menahan tekanan, lalu jebol dan menghantam apa pun di bawahnya. Hal itu diceritakan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri kepada Kristin Samah yang kemudian menuangkan dalam buku "Spirit Kemanusiaan: Manajemen Risiko Bencana Ala Megawati Soekarnoputri" halaman 2-4.
Dokumentasi tertulis mengenai gagasan manajemen risiko bencana tersebut telah lama diterbitkan secara resmi sebagai bentuk edukasi publik terhadap keselamatan lingkungan hidup.
Fakta empiris di lapangan yang membuktikan kebenaran peringatan tersebut disampaikan secara nyata melalui rangkaian catatan peristiwa mutakhir yang diunggah oleh akun @gunromli.
Kini, di akhir Agustus 2026, dunia menyaksikan sendiri apa yang pernah diperingatkan itu. Banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet, menewaskan ratusan orang dan menghilangkan lebih banyak lagi, setelah material es dan bebatuan raksasa longsor ke sungai dan menyapu permukiman di sepanjang lembah. Ibu Megawati tidak sedang meramal dalam arti mistis. Ia hanya mendengarkan sains, lalu menyuarakannya jauh sebelum dunia benar-benar merasakannya.
Keselarasan antara pandangan ilmiah dan realitas bencana alam yang terjadi saat ini menunjukkan pentingnya mendengarkan peringatan dini demi keselamatan umat manusia.
Refleksi akhir mengenai tabiat alam semesta yang memberikan isyarat keras diungkapkan secara ringkas melalui unggahan penutup dari pemilik akun @gunromli.
Dan seperti biasa, alam tidak pernah benar-benar diam sebelum ia bicara lewat bencana. Referensi: Buku "Spirit Kemanusiaan: Manajemen Risiko Bencana Ala Megawati Soekarnoputri", Kristin Samah, Gramedia: 2026 (hal 2-4).
Berbagai tanggapan sinis maupun humor dari warganet turut mewarnai kolom komentar atas perbincangan rekam jejak peringatan lingkungan tersebut.
Komentar singkat bernada candaan satir diutarakan secara langsung oleh akun @mister_kopet.
"Angkat bumeg sebagai nabi!!"
Rangkaian diskusi publik mengenai keterkaitan antara peringatan dini ekologis dan realitas bencana global ini menyoroti pentingnya kewaspadaan kolektif dalam menghadapi ancaman krisis iklim masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads