Repelita Washington DC - Meskipun unggahan kontroversial yang menampilkan gambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump mirip Yesus Kristus di platform Truth Social telah dihapus pada Senin, 13 April 2026, kecaman dari berbagai pihak masih terus berlanjut hingga viral di media sosial.
Trump membantah bahwa gambar buatan kecerdasan buatan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai sosok religius, dan mengklaim bahwa itu adalah dirinya yang sedang berperan sebagai seorang dokter.
ADVERTISEMENT
"Saya memang mengunggahnya dan saya pikir itu saya sebagai dokter terkait palang merah yang kami dukung," kata Trump seperti dilansir CNBC pada Selasa, 14 April 2026.
Ia juga menyebut tudingan bahwa dirinya memposisikan diri sebagai Yesus adalah berita palsu, karena gambar tersebut semestinya menggambarkan dirinya sebagai sosok yang menyembuhkan orang.
"Seharusnya itu saya sebagai seorang dokter yang menyembuhkan orang, jauh lebih baik," ujarnya membela diri.
Unggahan yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan itu muncul pada Minggu, 12 April 2026 malam, tak lama setelah Trump melontarkan kritik terhadap Paus Leo XIV terkait sikapnya atas kebijakan militer AS di Iran dan Venezuela.
Dalam unggahan tersebut, Trump terlihat mengenakan jubah putih dan meletakkan tangan pada seorang pria yang terbaring sakit, dengan cahaya terang memancar dari telapak tangannya seolah sedang melakukan penyembuhan.
Latar belakang gambar menampilkan simbol-simbol Amerika seperti bendera, elang botak, serta pesawat militer yang sedang terbang di angkasa.
Meskipun demikian, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai komentar terkait penghapusan unggahan yang menuai kontroversi tersebut.
Kritik keras datang dari berbagai pihak, termasuk komentator Kristen konservatif Megan Basham yang menyebut unggahan itu sebagai penistaan yang sangat keterlaluan.
Ia mendesak Trump untuk segera meminta maaf kepada publik dan kepada Tuhan atas tindakan yang dinilai tidak pantas tersebut.
Mantan anggota Kongres dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, juga mengecam tindakan Trump dan menilai unggahan itu tidak pantas, terlebih karena bertepatan dengan perayaan Paskah Ortodoks.
Namun, Wakil Presiden JD Vance justru membela Trump dengan menyebut unggahan tersebut sebagai lelucon yang tidak dipahami oleh banyak orang.
"Presiden suka mencampuradukkan berbagai hal di media sosial, dan itu salah satu hal baik karena dia tidak disaring," ujar Vance dalam wawancara dengan Fox News.
Kontroversi ini menambah panjang daftar polemik media sosial Trump, mengingat sebelumnya pada Mei 2025 ia juga pernah menuai kecaman setelah mengunggah gambar dirinya sebagai Paus usai wafatnya Paus Fransiskus.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok