Repelita Jakarta - Ketimpangan ekonomi di Indonesia menuai sorotan tajam dari pengamat politik dan jurnalis senior Hersubeno Arief yang menyinggung temuan terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada Jumat, 24 April 2026.
Hersubeno mengungkapkan bahwa jurang kekayaan antara kelompok elite dan masyarakat pekerja saat ini semakin menganga lebar.
ADVERTISEMENT
Ia merujuk pada laporan ketimpangan ekonomi Indonesia 2026 yang menunjukkan akumulasi kekayaan 50 orang terkaya setara dengan total kekayaan 55 juta rakyat kelas bawah.
“Data-data yang membuat kita miris dan hanya bisa mengelus dada itu adalah hasil studi terbaru dari CELIOS,” tuturnya di kanal YouTube pribadinya.
Bahkan jika tidak ada perubahan besar dalam struktur ekonomi dan politik, ketimpangan diperkirakan akan semakin melebar pada tahun 2050 mendatang.
Saat itu, kekayaan kelompok elite disebut bisa setara dengan lebih dari 100 juta rakyat kelas bawah yang hidup dalam keterbatasan.
Data yang disorot menunjukkan pertumbuhan kekayaan kelompok kaya berlangsung sangat cepat setiap detiknya.
Setiap detik, kekayaan mereka disebut bertambah sekitar Rp9,36 juta sementara buruh hanya menikmati kenaikan Rp1,47 per detik.
Dalam hitungan harian, kenaikan kekayaan kelompok elite mencapai sekitar Rp13,48 miliar sedangkan buruh hanya Rp2.113 per hari.
Secara tahunan, total pertambahan harta orang terkaya diperkirakan menembus Rp4,9 triliun sementara upah buruh naik hanya sekitar Rp769 ribu.
Hersubeno menilai angka-angka tersebut menunjukkan jurang ekonomi yang sangat tajam dan sulit untuk dikejar.
Pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen dinilai tidak otomatis mencerminkan kesejahteraan masyarakat luas menurut pandangannya.
Pertumbuhan tersebut lebih banyak dinikmati oleh kelompok elite ekonomi sehingga manfaatnya tidak merata ke semua lapisan.
Ia menyebut fenomena ini sebagai konsentrasi hasil pembangunan pada kalangan tertentu sementara pekerja tetap tertekan.
Laporan CELIOS juga menyoroti bahwa sebagian besar kekayaan orang terkaya Indonesia berasal dari sektor ekstraktif seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel.
Namun di sisi lain, masyarakat di daerah penghasil sumber daya alam masih menghadapi persoalan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial yang parah.
Ketimpangan ekonomi juga disebut berdampak besar terhadap generasi muda dengan terbatasnya kesempatan kerja formal.
Banyak anak muda terpaksa masuk ke sektor informal dengan perlindungan minim dan pendapatan yang rendah.
Harga properti yang terus naik jauh lebih cepat dibanding pendapatan membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau generasi mendatang.
Hersubeno juga menyoroti hubungan erat antara kekayaan besar dan kekuasaan politik di Indonesia saat ini.
Ia menilai sebagian kelompok kaya kini memiliki pengaruh kuat dalam lingkaran pemerintahan yang berbeda dengan masa lalu.
“Nah, masalahnya sekarang, oligarki itu juga mulai merambah ke kursi pemerintahan. Jadi mereka berada di lingkaran kekuasaan,” ungkapnya mengakhiri pernyataan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok