Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Herwin Sudikta ikut angkat bicara mengenai polemik yang menyeret nama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan menilai persoalan ini telah menyentuh sistem di tubuh militer secara lebih luas.
Menurut Herwin, kasus ini bukan sekadar persoalan individu semata, melainkan menyangkut pelanggaran aturan yang sistemik di internal TNI.
ADVERTISEMENT
"Ini bukan soal Teddy Indra Wijaya sebagai pribadi. Ini soal sistem militer yang lagi dilipat seenaknya," ujar Herwin dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Herwin secara blak-blakan menyoroti percepatan karier Teddy yang dinilainya tidak lazim berdasarkan standar kepangkatan di lingkungan militer.
"Begini faktanya. Lulusan Akmil 2011 seharusnya baru layak Letkol sekitar 2034," kata Herwin menjelaskan.
"Teddy adalah lulusan Akmil 2011, 2026 sudah Letkol. Lompat 8 tahun. Dan ini bukan sekali," tambahnya mengkritisi.
Ia juga menyoroti mekanisme kenaikan pangkat yang disebutnya menggunakan istilah janggal yang tidak dikenal dalam aturan resmi TNI.
"Naik pangkatnya pakai istilah ajaib: kenaikan reguler dipercepat, yang bahkan dikritik analis militer seperti Selamat Ginting karena tak ada dalam aturan TNI," tukas Herwin.
Selain persoalan pangkat, Herwin mengkritisi posisi Seskab yang diemban oleh perwira aktif TNI.
Ia menjelaskan bahwa Undang-Undang TNI hanya mengizinkan perwira aktif menempati 10 jabatan sipil tertentu yang sudah ditetapkan.
"Masalah makin serius. UU TNI cuma izinkan perwira aktif isi 10 jabatan sipil. Seskab? Tidak masuk. Artinya, kalau mau jadi Seskab, harusnya mundur dulu dari TNI. Tapi ini tidak," cetusnya.
Herwin juga menyoroti ketidaksesuaian antara jabatan Seskab dengan pangkat yang disandang Teddy saat ini.
Menurutnya, jabatan Seskab yang setara eselon II seharusnya diisi oleh perwira minimal berpangkat Brigadir Jenderal.
"Lebih aneh lagi, jabatan Seskab setara eselon II. Harusnya minimal Brigjen. Sekarang malah cukup Letkol. Belum cukup syarat, tapi sudah duduk," timpalnya.
Ia menilai kondisi ini berpotensi menimbulkan ketimpangan dan rasa tidak adil di internal militer.
"Sementara itu, perwira lebih senior, lebih lengkap pendidikan, masih antre," imbuh Herwin menggambarkan situasi yang terjadi.
Herwin mengkhawatirkan bahwa situasi seperti ini akan mengirimkan pesan buruk ke seluruh lingkungan militer.
"Pesan yang dikirim ke dalam TNI jelas: prestasi kalah sama kedekatan," bebernya mengkritisi.
Ia mengingatkan tentang dampak jangka panjang yang dapat terjadi jika praktik semacam ini terus dibiarkan berlalu begitu saja.
"Kalau ini dibiarkan, yang rusak bukan cuma satu orang. Yang rusak, sistem. Dan kalau militer mulai longgar terhadap aturan dan bisa dilangkahi, yang kena dampaknya bukan cuma mereka. Tapi kita semua," pungkas Herwin Sudikta.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok