Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Herwin Sudikta turut merespons ramainya pembicaraan terkait kabar Seskab Teddy Indra Wijaya yang disebut ditampar oleh Pangkopassus Letjen Djon Afriandi.
Alih-alih berfokus pada dugaan peristiwa penamparan tersebut, Herwin justru memilih untuk menyoroti sisi lain dari persoalan ini.
ADVERTISEMENT
"Yang menarik bagaimana seorang Letkol bisa duduk di jantung kekuasaan negara tanpa melepas status militer aktifnya," ujar Herwin dalam keterangannya pada Selasa (21/4/2026).
Menurut pandangannya, dalam sistem ketatanegaraan yang sehat dan ideal, peran militer dan birokrasi sipil seharusnya memiliki batasan yang jelas.
"Ketika satu orang bisa berada di dua dunia sekaligus, pertanyaannya sederhana," Herwin menuturkan dengan nada kritis.
"Ini soal kebutuhan darurat institusi atau soal kedekatan antar personal?," timpalnya mempertanyakan motif di balik penempatan tersebut.
Herwin mengaku curiga bahwa batasan tegas antara institusi militer dan sipil selama ini telah mulai dikaburkan.
"Apakah ini cerminan sistem yang fleksibel, atau justru batas yang mulai kabur?," tandasnya mengajukan pertanyaan retoris.
Sebelumnya, jagat media sosial memang dihebohkan dengan beredarnya narasi yang menyebut Teddy Indra Wijaya ditampar oleh seorang jenderal TNI.
Isu tersebut mulai ramai diperbincangkan setelah diunggah oleh akun Threads @jhonjonay dan menyebar luas ke berbagai platform.
"Dengar informasi si bunted digampar ya? Issuenya dia digampar sama Sjafrie," tulis unggahan tersebut.
Dalam narasi yang beredar, disebutkan telah terjadi ketegangan saat Pangkopassus Letjen TNI Djon Afriandi dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto.
Akun tersebut menuliskan bahwa Pangkopassus sempat menunggu cukup lama di ruang tunggu meskipun telah memiliki jadwal resmi.
Disebutkan pula bahwa Presiden Prabowo kemudian keluar dari ruangannya dan menegur situasi yang terjadi.
Setelah itu, narasi liar tersebut mengklaim telah terjadi insiden penamparan terhadap pihak protokoler Istana yang dikaitkan dengan Teddy.
"Singkat cerita, keluar ruangan dengan muka merah Djon Afriandi langsung cari si bunted, dan begitu ketemu tanpa basa-basi langsung digampar sambil bilang kamu anak kecil mainin saya hah!," tulis narasi tersebut.
Menanggapi isu yang berkembang, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) langsung memberikan klarifikasi resmi melalui akun Instagram @penkopassus.
Dalam unggahannya, Kopassus menegaskan bahwa kabar yang beredar luas tersebut adalah berita bohong atau hoaks.
"Waspada sedang beredar kabar bohong yang menyeret nama petinggi TNI dan lingkungan Istana. Narasi ini mengklaim adanya keributan antara Pangkopassus dan pihak protokoler," tulis akun tersebut pada Selasa (21/4/2026).
Kopassus meminta masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Menurut mereka, narasi yang beredar sengaja dibuat untuk memancing kegaduhan dan merusak soliditas internal lembaga negara.
"Faktanya ini hanyalah karangan yang tidak memiliki bukti valid. Informasi ini sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan dan memecah belah soliditas internal institusi negara," demikian pernyataan Kopassus.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok