Repelita Tel Aviv - Langit malam Tel Aviv yang biasanya gemerlap berubah menjadi merah oleh sirine peringatan serangan udara ketika Hizbullah menyerang ibu kota Israel pada Jumat, 10 April 2026 dini hari.
Sebagai respons atas pemboman Israel yang menewaskan lebih dari 300 warga Lebanon sehari sebelumnya, milisi Lebanon melanjutkan serangan di wilayah utara dengan meningkatkan intensitas sebagai bentuk balasan.
ADVERTISEMENT
Milisi tersebut mulai menargetkan wilayah yang lebih strategis, bahkan menyerang ibu kota Israel menggunakan rudal jarak menengah buatan Teheran.
Sirine berbunyi di seluruh wilayah Tel Aviv pada dini hari Jumat, 10 April 2026, membuat warga berhamburan keluar dari tempat tidur menuju tempat perlindungan bom.
Suara ledakan menggema di langit saat sistem Iron Dome berusaha mencegat rudal-rudal yang melesat dari arah utara, dengan militer Israel mengkonfirmasi bahwa sebagian rudal berhasil dicegat.
Namun puing-puing dari hasil intersepsi jatuh di wilayah pemukiman, memicu kepanikan massal di kalangan warga sipil.
“Kami mendengar ledakan keras. Saya mengira itu adalah gempa bumi,” kata seorang warga Tel Aviv kepada Reuters.
“Kemudian sirine berbunyi, dan kami berlari ke bunker. Ini adalah pertama kalinya Tel Aviv terkena serangan langsung sejak perang dimulai,” tambahnya.
Ada laporan bahwa warga Yaman juga ikut berpartisipasi dalam serangan ini, dengan kelompok Houthi yang didukung Republik Islam di Yaman telah beberapa kali mengklaim bertanggung jawab atas serangan bersama dengan Teheran dan Hizbullah.
Sejak 28 Maret 2026, Houthi mulai meluncurkan rudal dan drone ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap front perlawanan di Republik Islam, Irak, Lebanon, dan Palestina.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi al-Masirah, juru bicara militer Houthi Yahya Sarea mengatakan bahwa operasi bersama ini menargetkan Bandara Ben Gurion dan situs-situs militer strategis lainnya.
“Operasi ini dilakukan bersama dengan Korps Garda Revolusi Iran, tentara Iran, dan Hizbullah di Lebanon,” tegas Sarea, menambahkan bahwa misi tersebut berhasil mencapai tujuannya.
Aliansi ini menunjukkan bahwa konflik yang awalnya merupakan perang antara AS-Israel melawan Republik Islam kini telah melebar menjadi perang regional multi-front.
Hizbullah di utara, Houthi di selatan, serta milisi pro-Teheran di Suriah dan Irak kini secara kolektif mengepung Israel dari berbagai arah.
Di tengah eskalasi yang meningkat pesat ini, satu pihak justru terlihat pasif yaitu Republik Islam Iran yang tetap berada di pinggir lapangan, berpegang pada harapan bahwa negosiasi dapat dilakukan dalam kondisi saat ini.
Sejak gencatan senjata dua pekan diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 8 April 2026, Republik Islam sepertinya memilih untuk menahan diri dan memberikan kesempatan pada jalur diplomasi.
Mereka mengirimkan delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk bernegosiasi dengan perwakilan AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Namun kenyataan di lapangan berbicara lain bahwa selama Teheran berdiplomasi, Zionis justru melancarkan serangan paling mematikan ke Lebanon.
Seorang pejabat tinggi Teheran yang enggan disebutkan namanya mengakui kebuntuan ini dengan mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan perang tetapi juga tidak bisa mengabaikan sekutu-sekutu mereka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun rudal Republik Islam yang diluncurkan langsung ke Israel sebagai pembalasan atas serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Kebingungan mengenai cakupan gencatan senjata semakin memperumit situasi karena Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menjadi mediator mengumumkan bahwa gencatan senjata berlaku termasuk di Lebanon.
Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas membantah hal tersebut dengan menyatakan tidak ada gencatan senjata di Lebanon.
“Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh, dan kami tidak akan berhenti,” ujar Netanyahu.
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengklarifikasi bahwa AS tidak pernah berjanji untuk menghentikan serangan di Lebanon.
“Saya rasa Iran mengira bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon, dan ternyata tidak,” kata Vance kepada wartawan di Budapest.
Republik Islam yang merasa ditipu merespons dengan kemarahan, dengan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak masuk akal dalam situasi seperti ini.
Meskipun Iran belum secara langsung menembakkan rudal ke Israel, mereka tidak sepenuhnya diam karena Teheran telah mengeluarkan ancaman keras bahwa jika tembakan tidak berhenti di Lebanon selatan, unit udara dan rudal akan membom Tel Aviv.
Ancaman ini disampaikan oleh Dewan Keamanan Nasional Republik Islam yang menyatakan bahwa Iran hanya memberi waktu beberapa jam kepada Israel untuk menghentikan agresinya di Lebanon.
Selain ancaman militer langsung, Iran juga memainkan kartu ekonominya melalui Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dan tidak terhormat dalam mengizinkan lalu lintas minyak melalui selat tersebut.
Namun data pelacakan kapal menunjukkan bahwa lalu lintas melalui selat tersebut masih jauh di bawah normal masa damai, dengan hanya segelintir kapal yang berani melintas.
Di tengah hiruk-pikuk diplomatik dan ancaman rudal, rakyat Lebanon terus membayar harga tertinggi dengan serangan Israel pada Rabu (8/4/2026) yang menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai 1.150 lainnya.
Korban tewas di Lebanon sejak perang dimulai pada 2 Maret 2026 kini telah mencapai 1.888 orang dengan 5.873 luka-luka, dan lebih dari satu juta orang mengungsi dari rumah mereka.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan negaranya akan mengajukan pengaduan mendesak ke Dewan Keamanan PBB, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan kemanusiaan.
Sementara itu di Islamabad, ketidakpastian masih menyelimuti perundingan karena Duta Besar Iran untuk Pakistan Reza Amir Moghadam sempat mengumumkan kedatangan delegasi 10 orang namun kemudian menghapus pernyataan tersebut di tengah memburuknya situasi di Lebanon.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian meragukan proses negosiasi jika Israel terus melanjutkan kebijakan serangannya ke Lebanon.
Para analis melihat situasi ini sebagai mimpi buruk bagi strategi Iran karena dengan memilih untuk duduk di meja perundingan sementara sekutu-sekutunya bertempur, Iran mengambil risiko besar.
Hizbullah dan Houthi membuktikan bahwa mereka bisa menyerang Israel secara langsung, namun tanpa dukungan militer langsung dari Iran, efektivitas poros perlawanan ini tetap terbatas.
Rudal-rudal jarak menengah buatan Iran yang digunakan Hizbullah untuk menyerang Tel Aviv adalah bukti kemampuan teknologi Teheran, namun ketidakhadiran Iran sendiri di medan perang mengirimkan sinyal yang membingungkan.
Vance dijadwalkan tiba di Islamabad pada Jumat (10/4/2026) untuk memimpin negosiasi, namun dengan rudal yang masih beterbangan di atas Tel Aviv dan darah yang terus mengalir di Lebanon, pertanyaannya bukanlah apakah negosiasi akan berhasil, tetapi apakah negosiasi akan terjadi sama sekali.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Hezbollah attacks Tel Aviv.
— @Suriyak (@Suriyakmaps) April 10, 2026
In response to the israeli bombings, the Lebanese militia continues its attacks in northern Lebanon and has begun striking the Israeli capital with Iranian medium-range missiles. There are reports that Yemenis have also participated in this attack.… pic.twitter.com/kVXd1AMnx5