Berita, Timur Tengah

Houthi Resmi Buka Front Baru, Rudal Balistik Hantam Israel, Ancaman Blokade Ganda Selat Hormuz dan Bab al-Mandab Mengintai Ekonomi Global

Repelita.id

29 March 2026 13:22 WIB

Houthi Resmi Buka Front Baru, Rudal Balistik Hantam Israel, Ancaman Blokade Ganda Selat Hormuz dan Bab al-Mandab Mengintai Ekonomi Global
Foto: Istimewa

Repelita Sanaa - Eskalasi konflik bersenjata antara aliansi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan dengan keterlibatan aktif pasukan Houthi dari Yaman yang mengonfirmasi telah meluncurkan serangan balistik ke titik-titik vital di jantung pertahanan Israel.

Pasukan Houthi yang merupakan sekutu strategis Teheran menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga agresi di semua front berakhir, sebagaimana dikutip dari laporan The Guardian pada Minggu, 29 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

Masuknya faksi militer yang menguasai wilayah terpadat di Yaman ini tidak hanya memperluas palagan pertempuran tetapi juga menciptakan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global melalui potensi blokade ganda di dua titik nadi perdagangan dunia.

Dua titik strategis yang terancam adalah Selat Hormuz yang telah ditutup hampir total oleh Iran dan Selat Bab al-Mandab yang kini terancam oleh kehadiran militer Houthi di Laut Merah.

Analisis intelijen menunjukkan bahwa upaya Washington untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran sejauh ini belum mencapai target maksimal karena militer Amerika Serikat baru bisa memastikan kehancuran sekitar sepertiga dari total persenjataan rudal dan drone Iran.

Hal ini terbukti dengan masih masifnya serangan balasan yang dilancarkan Iran dan sekutunya, termasuk serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi yang melukai sedikitnya 12 tentara Amerika Serikat.

Tidak hanya fasilitas militer, infrastruktur sipil juga mulai terdampak serius karena Bandara Internasional Kuwait mengalami kerusakan signifikan pada sistem radarnya akibat serangan drone yang memicu gangguan jadwal penerbangan internasional.

Secara geopolitik, ancaman Houthi di Selat Bab al-Mandab akan melengkapi pengepungan jalur energi dunia jika Selat Hormuz telah ditutup hampir total oleh Iran, sehingga berpotensi memicu lonjakan harga komoditas global secara ekstrem.

Penutupan jalur antara Yaman dan Tanduk Afrika ini juga berpotensi menyeret Arab Saudi ke dalam konfrontasi langsung jika jalur ekspor pipa minyak mereka di Laut Merah turut terganggu akibat eskalasi konflik.

Di tengah kebuntuan militer yang semakin memanas, Pakistan mencoba mengambil peran sebagai mediator regional dengan mengumumkan akan menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir.

Namun banyak pihak meragukan efektivitas pertemuan tersebut karena tidak melibatkan pihak-pihak yang bertikai secara langsung, sehingga hasil yang diharapkan mungkin tidak akan maksimal.

Di sisi lain, Pakistan berhasil mencapai kesepakatan terbatas dengan Teheran untuk mengamankan jalur logistiknya, di mana Iran menyetujui untuk mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi selat secara bertahap.

Peneliti dari lembaga think tank Chatham House, Farea Al-Muslimi, menilai situasi ini sebagai eskalasi yang sangat mengkhawatirkan bagi infrastruktur ekonomi vital di seluruh kawasan Teluk.

Keputusan Houthi untuk bergabung dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas menandai eskalasi yang serius dan sangat mengkhawatirkan, dampak potensial terhadap rute maritim komersial utama tidak dapat diremehkan, demikian jelas Al-Muslimi.

Kini dunia sedang menanti apakah pendekatan diplomatik regional di Islamabad mampu meredam ketegangan atau justru kehadiran militer Houthi di Laut Merah akan benar-benar mengunci pasokan energi global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung