Repelita Havana - Eskalasi geopolitik di kawasan laut karibia kembali meruncing menyusul adanya peringatan keras dari otoritas tertinggi havana mengenai potensi kehancuran massal sekiranya pihak washington merealisasikan opsi agresi bersenjata.
Pemimpin pemerintahan pulau tersebut menegaskan bahwa manuver konfrontatif dari negeri paman sam tidak hanya memicu pertumpahan darah namun juga berisiko merusak tatanan perdamaian regional secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT
“Ancaman agresi militer terhadap Kuba dari kekuatan militer terbesar di planet ini sudah diketahui. Ancaman itu sendiri adalah kejahatan internasional,” tulis Bermúdez, dikutip Politico.
Otoritas diplomatik havana turut menyuarakan ketegasan yang sama dengan menyatakan bahwa sebagai entitas yang berdaulat mereka memiliki keabsahan penuh untuk meluncurkan tindakan defensif demi memproteksi tanah air.
Menteri luar negeri setempat mensinyalir adanya upaya dari pihak lawan untuk memanipulasi informasi publik lewat perilisan dokumen palsu guna melegitimasi rencana penyerbuan ke wilayah mereka.
Langkah provokatif tersebut mencuat setelah bocornya data rahasia yang mengklaim bahwa pihak havana telah memperkuat lini pertahanan udara mereka dengan mendatangkan ratusan unit pesawat tanpa awak berskala militer.
Dokumen intelijen barat itu menuduh adanya rencana pemanfaatan armada nirawak tersebut untuk menyasar pangkalan maritim asing di teluk guantanamo serta objek vital lainnya di semenanjung Florida.
Isu keamanan ini berkembang di tengah situasi darurat pasokan daya yang melanda wilayah domestik menyusul tindakan pemblokiran akses logistik energi pasca penahanan pemimpin negara sekutu mereka di amerika selatan.
Akibat kebijakan penahanan pasokan bahan bakar tersebut operasional pembangkit tenaga listrik di berbagai distrik kini mengalami kelumpuhan ekstrem dan hanya mampu berfungsi dalam durasi yang sangat terbatas.
Relasi bilateral kedua belah pihak yang memang telah membeku sejak era perang dingin kian diperparah oleh rencana aparat penegak hukum barat untuk menyeret mantan tokoh revolusioner kepulauan itu ke meja hijau.
Langkah hukum tersebut berkaitan erat dengan memori insiden kedirgantaraan masa lalu sementara pada saat yang sama kepemimpinan washington terus meluncurkan desakan politik guna memicu pergantian rezim di havana.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok