Berita, Internasional

Hubungan Trump dan Netanyahu Memanas Usai AS Tunda Serangan ke Iran Demi Jalur Diplomasi

Repelita.id

21 May 2026 22:51 WIB

Hubungan Trump dan Netanyahu Memanas Usai AS Tunda Serangan ke Iran Demi Jalur Diplomasi
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Retaknya keharmonisan politik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mulai terekspos ke ruang publik pasca-terjadinya perdebatan sengit via sambungan telepon terkait arah kebijakan perang kemandirian melawan Iran.

Komunikasi intensif yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026 waktu setempat tersebut memperlihatkan adanya jurang pemisah yang cukup lebar antara kubu Gedung Putih dan Tel Aviv mengenai strategi taktis meredam pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Pihak Washington diketahui mulai melunak dengan memprioritaskan koridor negosiasi serta menangguhkan rencana agresi militer terbaru, sebuah keputusan geopolitik yang seketika memicu kemarahan mendalam dari pihak pemerintahan zionis.

Berdasarkan bocoran informasi dari lingkaran dalam pemerintahan Amerika Serikat, pembicaraan bertensi tinggi tersebut berlangsung alot selama hampir satu jam karena Netanyahu terus mendesak agar opsi serangan darat dan udara tetap dieksekusi sesuai lini masa awal.

Sebelumnya, Trump sempat memberikan lampu hijau kepada mitranya tersebut bahwa pangkalan militer AS akan memulai invasi masif bersandi khusus menuju wilayah Iran pada paruh awal pekan ini.

“Kami berada di tahap akhir soal Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Donald Trump kepada wartawan.

Arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat setelah sang presiden menerima nota permohonan perdamaian dari blok negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi.

Aliansi strategis di Timur Tengah tersebut bersama pemerintah Pakistan secara aktif menggalang lobi diplomatik tingkat tinggi demi mencegah terjadinya perang terbuka yang berpotensi melumpuhkan jalur pasokan energi global.

“Kami akan mendapatkan kesepakatan atau kami akan melakukan sesuatu yang sedikit buruk,” ujarnya.

Penundaan operasi militer berskala besar ini dinilai oleh kabinet Israel sebagai keuntungan strategis bagi Teheran untuk mengonsolidasikan kekuatan pertahanan udara serta memperkuat posisi tawar mereka dalam peta konflik.

“Perbedaannya sangat jelas, Trump ingin melihat apakah kesepakatan bisa dicapai, sementara Netanyahu mengharapkan sesuatu yang berbeda,” ujar seorang pejabat Israel.

Friksi tajam ini merefleksikan adanya perbedaan visi yang mendasar, di mana Tel Aviv menghendaki penghancuran total kekuatan militer musuhnya, sedangkan Trump masih memetakan peluang penyelesaian damai dalam beberapa hari ke depan.

“Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan,” kata Trump.

Dari kubu berseberangan, otoritas diplomatik Iran membenarkan adanya pertukaran draf resolusi damai dengan pihak Gedung Putih yang dijembatani oleh diplomat senior dari pemerintahan Pakistan sebagai mediator netral.

“Pesan telah dipertukarkan beberapa kali, dan kami telah menerima pandangan pihak Amerika dan saat ini sedang meninjaunya,” kata Baqaei dikutip media pemerintah Iran.

Kendati proses rekonsiliasi masih bergulir di bawah meja perundingan, sang presiden menegaskan bahwa komando militer Amerika Serikat tetap berada dalam status siaga tempur tertinggi dan siap bergerak cepat jika diplomasi menemui jalan buntu.

“Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” tutup Trump.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung