Berita, Nasional

Ichsanuddin Noorsy dan Ubedilah Badrun Soroti Kebocoran Ratusan Triliun Hingga Transaksi Harta Anak Pejabat

Repelita.id

09 August 2026 15:38 WIB

Ichsanuddin Noorsy dan Ubedilah Badrun Soroti Kebocoran Ratusan Triliun Hingga Transaksi Harta Anak Pejabat
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menyampaikan analisis berbasis data terkait tantangan struktural ekonomi serta tata kelola negara dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored.

Mantan anggota DPR itu menegaskan krusialnya pemeliharaan batasan etika maupun moral konstitusi bagi seluruh pejabat publik penyandang otoritas.

ADVERTISEMENT

Menurut pandangannya, sistem tata kelola yang ideal wajib melindungi setiap perumusan kebijakan dari campur tangan kepentingan kelompok tertentu.

Ia membeberkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mengenai perkiraan dana implisit imbas penyimpangan tata kelola yang menembus Rp510 triliun selama kurun lima tahun.

Sorotan tajam turut diarahkan pada lonjakan beban utang negara hingga kisaran Rp9.020 triliun dengan rasio menembus di atas 40 persen terhadap PDB.

Mengutip catatan Bank Dunia, ia menyebutkan bahwa proyek infrastruktur cuma sanggup memangkas biaya logistik sebesar 0,3 persen lantaran tingginya angka rasio inkremental output modal.

Ditinjau dari kacamata ekonomi politik, regulasi pada Pasal 6A Ayat 2 dan Pasal 4 UUD 1945 ikut menjadi perhatian utamanya.

Ia menguraikan bahwa ketentuan itu secara praktis memberi celah besar bagi kepala negara untuk mencengkeram partai politik sekaligus memimpin pemerintahan.

Pemusatan wewenang tersebut dipandang rawan melahirkan aturan hukum yang cuma berpihak pada kongkalikong aliansi oligarki.

Pada kesempatan serupa, akademisi Ubedilah Badrun menyajikan temuan riset seputar dugaan keterkaitan antara lingkaran istana dan korporasi raksasa.

Ia mengungkap transaksi pembelian 188 juta lembar saham senilai Rp92 miliar oleh pengusaha muda berusia 26 tahun yang ditengarai memperoleh suntikan dana via modal ventura.

Kendati berkas analisis konektivitas tersebut sudah diserahkan ke aparat penegak hukum, proses penanganan perkara disebut terkendala perubahan aturan internal.

Siniar tersebut juga menyuguhkan tiga tampilan infografis yang membedah kelemahan dalam sistem tata kelola negara.

Paparan pertama memperlihatkan lonjakan drastis dalam grafik akumulasi harta kekayaan anak-anak bekas kepala negara.

Sajian berikutnya mengurai bagan kepemilikan saham tak langsung pada entitas PT Pancamitra Multiperdana Tbk.

Sementara itu, bagian akhir memetakan pola alur gratifikasi yang terselubung di balik payung regulasi resmi.

Guna membenahi kondisi ini, supremasi hukum tanpa tebang pilih direkomendasikan sebagai langkah perbaikan fundamental.

Kepemimpinan tingkat atas dituntut menyajikan contoh keteladanan moral bagi jajaran birokrasi di bawahnya.

Penegakan martabat bangsa dalam jangka panjang dinilai hanya bisa dicapai melalui pembenahan sistem perilaku serta pembaruan moral pendidikan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung