Repelita Washington DC - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan negara-negara agar tidak mengandalkan subsidi bahan bakar secara luas untuk meredam lonjakan harga energi global karena kebijakan tersebut dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal.
Dalam laporan Fiscal Monitor terbaru, IMF menyoroti bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik telah mendorong banyak negara mencari cara cepat melindungi daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
Namun subsidi energi dinilai bukan solusi yang tepat jika diterapkan secara menyeluruh karena justru dapat memicu tekanan ekonomi lebih besar dalam jangka panjang.
Kepala urusan fiskal IMF, Rodrigo Valdes, menegaskan bahwa negara sebaiknya menghindari subsidi BBM secara luas dan memilih pendekatan lebih terarah seperti bantuan tunai sementara kepada kelompok rentan.
“Kami tidak punya cukup minyak.
Kami tidak punya cukup energi.
Energi memang perlu menjadi lebih mahal bagi semua orang, agar penyesuaian terjadi dan konsumsi bisa menurun,” ujar Valdes sebagaimana dikutip dari Reuters pada Kamis (16/4/2026).
Menurut Valdes, harga energi yang tinggi justru menjadi sinyal penting bagi pasar agar permintaan bisa menyesuaikan dengan kondisi pasokan yang terbatas.
Jika pemerintah menahan harga melalui subsidi besar-besaran, sinyal tersebut menjadi tidak efektif dan justru dapat membuat harga global semakin tinggi.
“Jika harga ditekan, maka harga global justru bisa menjadi lebih tinggi.
Sangat penting untuk memberikan sinyal harga agar permintaan bisa menyesuaikan,” tambahnya.
IMF juga mencatat bahwa kondisi fiskal global saat ini sudah dalam tekanan berat dengan utang pemerintah dunia mencapai 93,9 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2025.
Angka tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mendekati 100 persen dalam beberapa tahun ke depan, dan dalam skenario terburuk bisa menembus 121 persen.
Beban pembayaran bunga utang juga meningkat tajam hingga hampir 3 persen dari PDB global, menunjukkan ruang fiskal banyak negara semakin terbatas.
Deputi direktur urusan fiskal IMF, Era Dabla-Norris, menyebut respons negara-negara terhadap lonjakan harga energi kali ini relatif lebih terkendali dibandingkan krisis sebelumnya.
“Negara-negara tidak serta-merta mengeluarkan paket besar.
Dalam kondisi ruang fiskal yang terbatas dan banyaknya pilihan kebijakan, pendekatan yang lebih disiplin menjadi yang kami dorong,” ujarnya.
IMF juga mengingatkan bahwa tantangan tidak hanya bersifat jangka pendek, dan setelah tekanan energi mereda negara-negara diharapkan segera memperkuat kembali kondisi fiskal mereka.
“Saran kami sederhana, bangun kembali ruang fiskal setelah kondisi stabil, dan lakukan tanpa penundaan,” kata Valdes.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok