Repelita Jakarta - Pemerintah Indonesia lebih dulu menyatakan siap menjadi juru damai ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, namun Presiden Donald Trump justru memilih Pakistan sebagai mediator.
Menteri Luar Negeri Sugiono pada Selasa (3/3) mengaku telah berkomunikasi dengan AS dan Iran agar mau duduk berunding yang ditengahi Presiden RI Prabowo Subianto, tetapi kedua pihak belum memberikan keputusan.
ADVERTISEMENT
Donald Trump akhirnya menyatakan gencatan senjata pada Rabu (8/4) pekan ini, dan bersama Iran sepakat menempuh jalur diplomasi dengan perantara Pakistan, bukan Indonesia.
Trump mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif karena dinilai gigih mengupayakan perdamaian, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan mau gencatan senjata berkat keyakinan yang diberikan Sharif.
Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Paul Staniland, mengungkapkan alasan Trump memilih Pakistan karena negara yang berbatasan langsung dengan Iran ini telah lama menjadi perantara pesan utama antara Teheran dan Washington.
Pada periode pertama Trump sebagai presiden, hubungan dengan Pakistan cenderung fluktuatif, namun pada masa jabatan kedua ini Islamabad berhasil mendekati lingkaran dalam Trump secara personal.
“Sebenarnya, jauh sebelum perang Iran ini, Pakistan telah benar-benar bisa menjangkau pemerintahan Trump maupun Trump secara pribadi beserta keluarga,” kata Staniland dikutip dari globalaffairs.org pada Jumat (10/4/2026).
Selain lobi personal, Pakistan juga memiliki modal geografis berupa perbatasan darat yang panjang dengan Iran, pakta pertahanan bersama Arab Saudi, serta hubungan erat dengan China.
Posisi unik ini memungkinkan Pakistan menjadi jembatan di tengah krisis yang melibatkan banyak aktor besar, sehingga mengungguli tawaran Indonesia yang lebih dulu maju sebagai juru damai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok