Berita, Timur Tengah

Iran Akui Keputusan Perang di Bawah Arahan Mojtaba Khamenei

Repelita.id

29 April 2026 21:40 WIB

Iran Akui Keputusan Perang di Bawah Arahan Mojtaba Khamenei
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Iran untuk pertama kalinya secara terbuka mengungkap siapa yang mengontrol keputusan tertinggi di tengah peperangan dengan Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump sebelumnya mengeklaim kepemimpinan Teheran berada di ambang keruntuhan total.

Wakil ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran melalui kantor berita resmi Tasnim pada Rabu, 29 April 2026, menyatakan bahwa seluruh perundingan yang sedang berjalan meskipun mandek dilakukan di bawah arahan langsung Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.

ADVERTISEMENT

Laporan Tasnim juga menambahkan bahwa selain Mojtaba Khamenei, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf secara aktif memimpin langsung jalannya negosiasi diplomasi dengan pihak Amerika Serikat.

Ghalibaf dalam beberapa pekan terakhir telah muncul sebagai salah satu tokoh paling dominan dalam pengambilan keputusan strategis Iran di masa perang dan memainkan peran sentral dalam berbagai upaya diplomatik.

Sosoknya menjadi sorotan dunia internasional setelah disebut-sebut sebagai pilihan Donald Trump untuk menjadi pemimpin masa depan Iran pasca perang, meskipun klaim tersebut tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.

Namun sejauh ini Ghalibaf justru dikenal vokal dalam melayangkan ancaman dan ultimatum keras terhadap Amerika Serikat jika masih terus berusaha menggempur wilayah Iran.

Pernyataan resmi Teheran ini muncul ketika publik internasional mulai mempertanyakan keberadaan fisik Mojtaba Khamenei yang belum pernah tampil langsung di depan publik sejak diangkat sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.

Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama sejumlah anggota keluarganya dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilancarkan pada 28 Februari 2026 di awal pecahnya konflik.

Sejumlah laporan intelijen dari berbagai negara bahkan mengungkap bahwa Mojtaba Khamenei saat ini berada dalam kondisi kesehatan yang kritis akibat luka parah yang dideritanya dalam serangan yang sama.

Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa, 28 April 2026, Trump mengeklaim bahwa Iran telah memberitahu dirinya secara langsung bahwa negara itu sedang berada dalam "kondisi kolaps" yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'kondisi kolaps'. Mereka ingin kami 'membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, sementara mereka berusaha menyelesaikan persoalan kepemimpinan mereka (yang saya yakin akan bisa mereka atasi!)," ucap Trump dalam unggahannya.

Namun presiden Amerika Serikat itu sama sekali tidak menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan maupun siapa pihak Iran yang menyampaikannya kepadanya.

Pernyataan Trump tersebut muncul di tengah laporan bahwa dirinya tidak puas dengan proposal terbaru Iran yang ingin fokus bernegosiasi soal Selat Hormuz terlebih dulu dan mengesampingkan pembicaraan nuklir.

Padahal masalah program nuklir Iran merupakan salah satu tujuan utama Amerika Serikat memerangi Teheran sejak gelombang serangan pertama dilancarkan pada akhir Februari lalu.

Situasi ini semakin mendesak karena berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Perang tahun 1973, Trump memiliki tenggat waktu hingga 1 Mei 2026 untuk meminta persetujuan resmi dari Kongres guna melanjutkan operasi militer ke Iran.

Undang-Undang Kekuatan Perang menyatakan bahwa seorang presiden Amerika Serikat harus membatasi pengerahan pasukan dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung setelah melewati masa 60 hari, kecuali jika diberi otorisasi khusus oleh Kongres.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung