Repelita Teheran - Sebagai balasan atas ancaman Presiden Donald Trump yang menyatakan akan meledakkan seluruh negara Iran, Teheran secara terbuka mengancam akan melumpuhkan total ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Target serangan Iran bukan hanya Selat Hormuz yang sudah ditutup, tetapi juga jalur-jalur alternatif yang selama ini digunakan negara-negara Teluk untuk menyelamatkan ekspor mereka.
ADVERTISEMENT
Laporan dari Tasnim yang dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengungkapkan rencana komprehensif Teheran untuk menghancurkan infrastruktur minyak negara-negara tetangga.
Jika ancaman ini benar-benar dieksekusi, dampaknya terhadap perekonomian global akan sangat dahsyat dan tidak terbayangkan.
Harga minyak dunia yang saat ini sudah melonjak di atas 95 dolar AS per barel berpotensi meroket ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para analis bahkan menyebut skenario terburuk bisa menembus angka 200 dolar AS per barel dalam hitungan minggu.
Menurut laporan Tasnim yang dikutip oleh berbagai media internasional, Republik Islam telah menyusun daftar target strategis yang akan diserang jika perang kembali meletus.
Target pertama yang masuk dalam daftar adalah Pipa Minyak Yanbu di Arab Saudi.
Pipa Yanbu merupakan jalur vital Kerajaan Saudi untuk mengirimkan hingga 7 juta barel minyak per hari melintasi gurun menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Dari Yanbu, minyak tersebut kemudian dikapalkan ke Eropa dan Amerika melewati Selat Bab el-Mandeb.
Jika pipa ini hancur, Arab Saudi akan kehilangan satu-satunya jalur ekspor yang tersisa setelah Selat Hormuz ditutup.
"Target utama adalah pipa minyak Saudi Aramco di Yanbu. Ini adalah jalur yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz," demikian pernyataan dalam dokumen peringatan Teheran.
Target kedua dalam rencana serangan Iran adalah fasilitas Fujairah di Uni Emirat Arab.
Fujairah merupakan pelabuhan air dalam yang terletak di pesisir timur UEA, tepat di luar Selat Hormuz.
Fasilitas ini selama ini menjadi pusat penyimpanan dan pengiriman minyak terbesar di kawasan Timur Tengah.
Selama bertahun-tahun, Fujairah telah menjadi pintu belakang bagi negara-negara Teluk untuk mengekspor minyak tanpa harus melewati selat yang dikuasai Iran.
"Iran berencana menyerang fasilitas Fujairah di UEA, yang juga digunakan untuk menghindari Selat Hormuz," tulis Tasnim dalam laporannya.
Target ketiga adalah penutupan total Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Setiap hari, sekitar 6,2 juta barel minyak melewati jalur strategis ini menuju Eropa dan Amerika.
Selama ini Iran tidak terlalu fokus pada Bab el-Mandeb, namun kali ini situasinya berbeda.
Tasnim melaporkan bahwa Iran akan menutup total selat tersebut jika perang benar-benar pecah.
"Penutupan Bab el-Mandeb akan secara efektif memutus satu-satunya rute ekspor minyak yang tersisa bagi Arab Saudi," demikian analisis South China Morning Post.
Ancaman Iran kali ini berbeda dari sebelumnya karena bukan sekadar retorika perang belaka.
Ini adalah sebuah rencana terkoordinasi untuk melumpuhkan seluruh infrastruktur energi Timur Tengah secara sistematis.
Target-target yang dipilih Iran menunjukkan pemahaman mendalam tentang kerentanan ekonomi negara-negara Teluk.
Mereka tahu persis di mana letak titik lemah musuh-musuhnya dan bagaimana cara menghancurkannya.
Ancaman ini datang saat Iran sudah dalam posisi terdesak setelah AS menyita kapal kargo TOUSKA di Laut Oman pada Ahad (19/4).
Iran pun menuntut balas dan mengatakan akan mencabut pengendalian diri yang selama ini mereka tunjukkan.
"AS terus mempersiapkan kelanjutan perang sambil secara publik menyatakan kesiapan mereka untuk bernegosiasi," demikian pernyataan Tasnim.
"Iran siap untuk 'meninggalkan pengendalian diri' yang ditunjukkan pada fase pertama perang dan meluncurkan 'jam-jam neraka yang tak terlupakan' sejak awal konflik yang diperbarui dengan Amerika dan Israel."
Pasar minyak sudah bereaksi keras terhadap eskalasi terbaru ini.
Pada perdagangan Senin (20/4), harga minyak mentah Brent melonjak 5,5 persen ke level 95,32 dolar AS per barel.
Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 6 persen ke 87,56 dolar AS per barel.
Namun para analis memperingatkan bahwa kenaikan ini hanyalah permulaan dari gejolak yang jauh lebih besar.
Jika Iran benar-benar menyerang Yanbu dan Fujairah sekaligus menutup Bab el-Mandeb, lebih dari 20 juta barel per hari akan terputus dari pasar global.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total suplai minyak dunia setiap harinya.
"Kami memperkirakan harga minyak bisa melonjak ke kisaran 150-200 dolar AS per barel dalam hitungan minggu jika skenario terburuk terjadi," kata seorang analis energi kepada Reuters.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok