Repelita Beirut - Dua panggung perang di Timur Tengah kini saling terkait erat setelah Iran yang selama ini dituduh sebagai dalang di balik kelompok perlawanan kembali menunjukkan pengaruhnya secara nyata.
Kali ini dampak kekuatan Iran terasa langsung di medan pertempuran Lebanon selatan di mana Hizbullah berhasil mengubah keseimbangan kekuatan melalui teknologi drone mutakhir.
ADVERTISEMENT
Media Israel Israel Hayom melaporkan bahwa tentara rezim Zionis kini diliputi kekecewaan mendalam akibat situasi yang tidak sesuai dengan rencana awal mereka.
Yang seharusnya menjadi jebakan strategis bagi Hizbullah untuk membuatnya berlutut justru berubah menjadi jebakan mematikan bagi pasukan Israel sendiri.
"Sulit untuk mengabaikan kekecewaan di kalangan tentara Israel atas situasi di Lebanon," tulis media tersebut dalam laporannya pada awal Mei 2026.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam telah memasok Hizbullah dengan teknologi drone serat optik yang mengubah cara bertempur di medan perang modern.
Hizbullah yang didirikan dengan bantuan IRGC pada tahun 1980-an telah menjadi pilar utama kebijakan luar negeri Iran di Timur Tengah.
Kelompok ini berfungsi sebagai kekuatan proksi yang signifikan bagi Iran terutama dalam konfrontasi langsung dengan Israel selama beberapa dekade terakhir.
Transformasi Hizbullah menjadi kekuatan militer yang tangguh dimungkinkan melalui dukungan finansial dan militer besar-besaran dari Teheran.
Menurut laporan intelijen Amerika, Iran menyumbang sekitar 570 juta dolar AS setiap tahunnya untuk membiayai operasional Hizbullah.
Kini dengan dukungan teknologi terbaru, Hizbullah meluncurkan senjata baru berupa drone kecil yang dikendalikan dengan kabel serat optik selebar benang gigi.
Karena terhubung langsung dengan kabel fisik ke operatornya, drone jenis ini tidak memancarkan sinyal radio apapun sehingga kebal terhadap sistem peperangan elektronik milik Israel.
Drone ini terbang rendah dan cepat dengan ukuran yang sangat kecil sehingga sulit dideteksi oleh radar konvensional.
Ran Kochav, mantan komandan pertahanan udara Israel, mengakui bahwa negaranya saat ini gagal menghadapi ancaman baru dari drone serat optik Hizbullah.
"Mereka terbang sangat rendah dan sangat cepat, dan mereka sangat kecil, sangat sulit untuk mendeteksi mereka, dan bahkan setelah mereka terdeteksi, mereka sangat sulit dilacak," kata Kochav dalam wawancaranya.
Ia juga mengakui bahwa Israel terlalu fokus pada pertahanan terhadap roket dan rudal sehingga mengabaikan ancaman drone yang kini terbukti fatal.
Inilah yang disebut The Jerusalem Post sebagai jebakan strategis yang berbalik membunuh Israel di medan perang Lebanon selatan.
Pada Kamis (30/4/2026), sebuah drone Hizbullah menyerang posisi artileri Israel di dekat pemukiman Shomera, Galilea Barat dengan akurasi tinggi.
Akibat serangan ini, 12 tentara Israel dilaporkan terluka dengan dua di antaranya mengalami luka sedang sementara sisanya dalam kondisi baik.
Menurut militer Israel, drone tersebut menghantam sebuah kendaraan pengangkut militer M548 yang digunakan untuk mengangkut peluru artileri.
Kendaraan itu terbakar dan beberapa peluru artileri di sekitarnya ikut meledak menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan.
Militer Israel sedang menyelidiki apakah drone tersebut dipandu dengan kabel serat optik buatan Iran atau tidak.
Jika terbukti, ini akan menjadi bukti nyata bahwa Iran telah mentransfer teknologi medan perang Ukraina ke Hizbullah di Lebanon.
Dalam 11 hari terakhir saja, Israel kehilangan tiga tentara dengan dua tewas oleh ranjau darat yang sudah dipasang sebelumnya.
Para analis militer menyebut situasi saat ini sebagai kesepakatan gencatan senjata yang telah berubah menjadi perang gesekan berdarah tanpa akhir.
"Ini bukan gencatan senjata. Ini adalah perang gesekan yang lambat namun pasti," tulis analis Ynetnews mengomentari situasi terbaru.
Seorang pejabat senior militer Israel mengakui pahitnya situasi ini dengan mengatakan bahwa saat ini tidak ada solusi untuk menghadapi drone Hizbullah.
Tel Aviv tidak akan pernah berhasil mencegat drone serat optik secara sempurna karena keterbatasan teknologi pertahanan yang mereka miliki.
Satu-satunya cara menurut pejabat tersebut adalah menargetkan operator drone itu sendiri di kedalaman 20 kilometer wilayah Lebanon.
Pejabat keamanan Israel menggambarkan situasi saat ini sebagai jebakan strategis tanpa jalan keluar yang jelas di tengah tekanan diplomatik Amerika.
"Kami berada dalam jebakan strategis. Kami tidak bisa mundur dari Lebanon selatan karena itu akan menjadi pengakuan kekalahan, dan kami tidak bisa maju karena Trump menahan kami," ujarnya.
Kritik juga datang dari mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett yang memperingatkan tentara Israel di Lebanon tengah berubah dari pemburu menjadi buruan.
"Saya tidak mau menerima situasi di mana tentara IDF di Lebanon dipaksa melawan kehendak mereka untuk berubah dari pemburu menjadi buruan, karena eselon politik mengikat tangan mereka," tulis Bennett di akun X miliknya.
Ia menambahkan bahwa teroris Hizbullah duduk dengan nyaman di tempat-tempat yang mereka tahu dilarang diserang oleh pasukan Israel.
Kekhawatiran meluas bahwa ancaman drone yang saat ini terpusat di Lebanon dapat dengan mudah menyebar ke front lain termasuk Tepi Barat yang diduduki.
Channel 13 Israel melaporkan bahwa berdasarkan perkiraan militer Israel, Hizbullah memiliki ribuan drone bunuh diri siap pakai.
Koran Israel Haaretz dalam laporannya menyatakan bahwa front Lebanon telah berubah menjadi medan paling sulit dan paling berdarah bagi tentara rezim Zionis.
Meningkatnya jumlah tentara Israel yang terluka memicu pertanyaan di internal militer tentang kelanjutan operasi di Lebanon.
Koran Israel Hayom mengutip seorang perwira senior yang mengakui bahwa situasi saat ini di front Lebanon jauh lebih buruk daripada masa sebelum perang.
Frasa "kembali ke rawa Lebanon" yang sarat makna dalam sejarah militer Israel mulai terbentuk lagi di kalangan analis.
Antara tahun 1985 hingga 2000, Israel menduduki zona keamanan di Lebanon selatan yang justru menjadi kuburan bagi tentara mereka.
Kini sejarah tampaknya berulang dan Iran dari kejauhan tersenyum puas melihat situasi yang terjadi.
Zvi Glidai, warga Israel berusia 78 tahun yang tinggal 2 kilometer dari perbatasan Lebanon, menemukan drone Hizbullah yang jatuh di halaman belakang rumahnya pada 13 April.
Drone itu dikelilingi oleh kumparan benang serat optik putih dengan hampir 2 kilogram bahan peledak yang gagal meledak.
Tim penjinak bom yang datang memberitahunya bahwa itu adalah keajaiban karena bom gagal berfungsi dengan baik.
"Mereka mengambil semua potongan yang bisa mereka ambil, dan mereka meninggalkan saya beberapa serat optik sebagai kenang-kenangan," tambah Glidai.
Seorang perwira Israel yang bertugas di Lebanon selatan mengingatkan bahwa tidak ada solusi nyata untuk mengatasi ancaman drone Hizbullah.
"Ketika drone itu datang, sudah terlambat. Kami benar-benar terbuka di Lebanon selatan," ujar perwira tersebut.
Itulah realitas pahit yang kini menghantui Israel di tengah perang yang dimulai dengan keyakinan penuh akan kemenangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Hebrew media: The Israeli army is disappointed with the situation in Lebanon
— Sprinter Press Agency (@SprinterPress) May 2, 2026
Israel Hayom:
🔹What was supposed to be a "strategic trap" for Hezbollah to bring it to its knees has turned into a strategic trap for Israel. As the days pass, the fighting in the north reminds us of… pic.twitter.com/DKVXME5qDp