Repelita Teheran - Ketegangan di Timur Tengah kembali naik level setelah Iran melontarkan ancaman terbuka kepada Amerika Serikat melalui pernyataan juru bicara Markas Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ibrahim Zolfaghari, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur dan siap memburu tentara Amerika di kawasan.
“Para komandan dan tentara Amerika telah lari dan bersembunyi di tempat-tempat perlindungan di luar pangkalan mereka yang telah hancur, dan kami sedang memburu mereka,” kata Zolfaghari dalam pernyataannya pada Sabtu (28/3/2026).
ADVERTISEMENT
Ia bahkan menyerukan agar warga di negara-negara kawasan ikut melaporkan keberadaan personel militer Amerika Serikat dengan mengatakan, “Kami meminta rakyat negara-negara di kawasan untuk melaporkan tempat persembunyian mereka, dan demi keamanan kalian sendiri, usir Amerika dari kawasan ini.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Iran tidak lagi sekadar berbicara dalam kerangka pertahanan tetapi juga mulai membangun narasi perang regional terbuka dengan menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika di Timur Tengah bukan faktor stabilitas melainkan ancaman langsung bagi keamanan negara-negara sekitar.
Iran juga menegaskan akan terus mempertahankan kendali strategis di Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi salah satu nadi perdagangan energi dunia, sehingga ancaman terhadap selat tersebut bukan lagi sekadar retorika militer tetapi bisa berimbas langsung pada keamanan energi global dan harga minyak dunia.
Di saat yang hampir bersamaan, kelompok Houthi di Yaman mempertegas posisi mereka melalui pernyataan resmi yang menyatakan akan terus membantu Iran dan melanjutkan serangan terhadap Israel serta kepentingan Amerika Serikat sampai tujuan mereka tercapai.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut operasi mereka sebagai bagian dari fase baru perang dengan mengatakan, “Kami melaksanakan operasi militer kedua sebagai bagian dari perang jihad suci.”
Ia menegaskan bahwa serangan akan terus dilancarkan sampai Israel menghentikan operasi militernya terhadap Iran dan Lebanon, dengan serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal jelajah dan drone.
Masuknya Houthi ke dalam konflik ini menjadi sinyal yang sangat serius karena kelompok itu selama ini dikenal punya kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran internasional terutama di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb.
Jika konflik terus melebar, maka dampaknya tidak hanya dirasakan di medan perang tetapi juga bisa memukul perdagangan global dan rantai pasok energi dunia yang sudah terganggu sejak penutupan Selat Hormuz.
Di pihak lain, Israel merespons perkembangan ini dengan nada yang tak kalah keras ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaku telah memerintahkan militernya untuk memperluas operasi di Lebanon selatan menyusul serangan roket dan ancaman berkelanjutan dari Hizbullah.
Netanyahu menyebut langkah itu diambil untuk menggagalkan ancaman invasi dan menjauhkan rudal anti-tank dari wilayah perbatasan Israel, seraya menegaskan bahwa Israel akan terus bertempur dan tidak akan membiarkan ancaman bersenjata terus bercokol di dekat perbatasannya.
Dengan demikian medan perang kini tidak lagi berdiri sendiri karena Iran mengancam Amerika Serikat, Houthi mulai menyerang dari Yaman, Hizbullah terus menekan dari Lebanon, dan Israel merespons dengan ekspansi operasi militernya.
Gambaran ini menunjukkan bahwa konflik telah berubah menjadi perang multiporos yang jauh lebih rumit dan berisiko, dengan sejumlah laporan internasional mencatat bahwa Israel memperluas invasinya di Lebanon selatan sementara perang Iran-AS-Israel terus memasuki fase yang lebih terbuka.
Di tengah situasi yang makin panas, Pakistan mencoba memainkan kartu diplomasi dengan menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran demi menghentikan konflik yang terus memburuk.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan negaranya siap memfasilitasi dialog yang bermakna bagi kedua belah pihak karena baik Washington maupun Teheran sama-sama telah menunjukkan kepercayaan kepada Pakistan untuk membantu membuka jalur komunikasi.
Gagasan itu juga telah dibahas dalam pertemuan para menteri luar negeri dari Pakistan, Turki, Mesir, dan Arab Saudi di Islamabad, dengan Dar menegaskan bahwa perang yang berkepanjangan tidak menguntungkan siapa pun.
“Satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik ini adalah dialog dan diplomasi,” ujarnya, meskipun jalan diplomasi tampaknya masih terjal karena di lapangan serangan masih berlangsung di berbagai titik sementara masing-masing pihak masih mempertahankan posisi kerasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok