Berita, Timur Tengah

Iran Cap UEA sebagai Basis Musuh, Ketegangan Teluk Memanas usai Tuduhan Fasilitasi Militer Barat

Repelita.id

13 May 2026 13:48 WIB

Iran Cap UEA sebagai Basis Musuh, Ketegangan Teluk Memanas usai Tuduhan Fasilitasi Militer Barat
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Eskalasi ketegangan diplomatik di kawasan Teluk semakin memanas setelah otoritas keamanan Iran secara terbuka mengubah status kemitraan regional mereka terhadap Uni Emirat Arab (UEA).

Langkah penegasan posisi politik luar negeri tersebut diambil menyusul adanya tudingan keterlibatan negara federasi Arab itu dalam memfasilitasi pergerakan logistik militer sekutu barat di wilayah perbatasan.

ADVERTISEMENT

Anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ali Khezrian memberikan pernyataan resmi melalui saluran televisi pemerintah yang menegaskan bahwa “Our label of ‘neighbours’ with the Emirates has for now been lifted, and the label of ‘hostile base’ has been set for the country,”.

Pernyataan keras tersebut menjadi indikasi awal terjadinya keretakan hubungan bilateral yang berpotensi memicu gesekan bersenjata secara langsung di kawasan perairan strategis Selat Hormuz.

Pihak Komando Pusat Satuan Militer Iran secara khusus juga melayangkan peringatan tertulis yang dialamatkan langsung kepada jajaran elite kepemimpinan Abu Dhabi agar tidak mengubah wilayah kedaulatan mereka menjadi “the den of Americans and Zionists and their military forces and equipment to betray the world of Islam and Muslims”.

Keterlibatan aktif pangkalan udara Al-Dhafra dalam menampung ribuan personel militer asing serta sistem radar modern dinilai menjadi ancaman pertahanan yang sangat nyata bagi kedaulatan pulau-pulau selatan milik Iran.

Sebagai bentuk balasan atas pembatasan visa dan penutupan jalur perdagangan yang merugikan korporasi domestik, korps garda revolusi mulai memperketat pengawasan maritim terhadap seluruh armada kapal yang bersandar di pelabuhan Fujairah.

Di sisi lain penasihat kepresidenan UEA Anwar Gargash berargumen bahwa manuver agresif Teheran justru akan mempercepat realisasi pakta pertahanan kolektif antara negara-negara penandatangan Abraham Accords dengan Israel.

Dirinya menegaskan posisi diplomasi negaranya pada pertengahan Maret lalu bahwa serangan Iran terhadap tetangga Arabnya justru akan berfungsi untuk memperkuat hubungan antara Israel dan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Menteri Negara Urusan Kerja Sama Internasional UEA Reem al-Hashimy turut menambahkan argumentasi logis mengenai alasan di balik tingginya tensi permusuhan yang diarahkan kepada negaranya selama periode konflik berlangsung.

Dirinya mengklaim keunggulan peradaban domestik dengan menyatakan bahwa “We represent economic prosperity, welcoming over 200 nationalities and embracing cultural diversity,” sembari menuding pihak lawan telah menghabiskan kekayaan nasional demi program nuklir.

Meskipun laporan mengenai keterlibatan jet tempur Mirage dalam operasi pemboman kilang minyak di Pulau Qeshm sempat dibantah, sisa reruntuhan pesawat tanpa awak Wing Loong yang jatuh di wilayah konflik menjadi bukti otentik di lapangan.

Menanggapi rumor keterlibatan operasi udara tersebut pejabat senior Abu Dhabi Ali al-Nuaimi memberikan bantahan keras dengan menegaskan bahwa “When we do something, we have the courage to announce it.” sehingga menepis anggapan adanya misi rahasia.

Hingga saat ini sengketa kepemilikan wilayah zona ekonomi eksklusif pada gugusan Pulau Tunb Besar, Tunb Kecil, dan Abu Musa masih menjadi batu sandungan utama dalam upaya rekonsiliasi perdamaian jangka panjang.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung