Repelita Jakarta - Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali mengalami lonjakan tajam menyusul aksi militer terbuka yang dilancarkan oleh Teheran terhadap fasilitas pertahanan Washington.
Militer Iran melancarkan serangan kombinasi menggunakan armada pesawat nirawak serta proyektil rudal presisi tinggi yang menyasar instalasi militer Amerika Serikat di Provinsi Erbil, Irak.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan yang diunggah melalui akun media sosial @nandxnandza
pada 2 September 2026, gelombang penyerangan tersebut menimbulkan dampak kerusakan fisik yang sangat signifikan di lokasi kejadian.
Unggahan informasi dari akun tersebut ditampilkan secara utuh tanpa ada pengubahan redaksional sedikit pun sebagai berikut: TERBARU: Iran menyerang Pangkalan-pangkalan AS di Provinsi Erbil, Irak. Rudal dan drone digunakan dalam serangan tersebut, dengan kobaran api terlihat di lokasi. Iran juga menghancurkan sistem kendali balon pengawasan milik AS.
Selain menghujani area pangkalan militer dengan proyektil mematikan, gempuran tersebut juga dilaporkan berhasil melumpuhkan infrastruktur pendukung strategis berupa sistem kendali balon pemantau udara.
Kobaran api besar dilaporkan membubung tinggi di sekitar area instalasi militer yang menjadi target gempuran pasukan pertahanan Iran di wilayah teritorial Irak tersebut.
Dalam postingan lanjutan yang dipublikasikan pada hari yang sama, pemilik akun @nandxnandza
turut memuat keterangan resmi dari otoritas militer Iran mengenai skala kerusakan akibat serangan itu.
Pernyataan dari perwira tinggi militer Iran tersebut dimuat secara persis tanpa perubahan teks sedikit pun sebagai berikut: TERBARU: Kerusakan Parah ditimbulkan pada pangkalan-pangkalan AS yang disebut sebagai Pangkalan pembunuh anak-anak. Sejumlah besar komandan dan tentara AS tewas atau terluka, kata Juru Bicara Militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari. Ia menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga AS Menyesali Kejahatannya, serta memperingatkan akan adanya respon yang Lebih Berat.
Ancaman terbuka tersebut mengindikasikan bahwa ketegangan geopolitik antara kedua negara berpotensi terus memburuk dalam waktu dekat seiring meningkatnya aksi saling balas militer.
Pemerintah negara petahana di kawasan tersebut kini meningkatkan status siaga tinggi guna menghadapi kemungkinan terburuk dari kelanjutan rangkaian operasi militer lintas batas itu. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads