Berita, Timur Tengah

Iran Klaim Punya Kartu Baru di Medan Perang, Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman AS, Selat Hormuz Tetap Tertutup

Repelita.id

22 April 2026 13:22 WIB

Iran Klaim Punya Kartu Baru di Medan Perang, Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman AS, Selat Hormuz Tetap Tertutup
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Republik Islam Iran mengklaim memiliki kartu baru di medan perang untuk menghadapi Amerika Serikat dan Israel jika konflik terus berlanjut.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Iran siap menunjukkan kartu baru tersebut tanpa menjelaskan secara detail apa yang dimaksud.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara Iran dan AS yang membuat situasi semakin tidak menentu.

Memasuki hari ke-53 konflik, ketegangan yang melibatkan Iran, AS, dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Teheran secara terbuka menolak untuk bernegosiasi dalam kondisi yang mereka sebut sebagai bayang-bayang ancaman.

Penolakan itu merujuk pada tekanan militer dan sanksi ekonomi yang masih diberlakukan oleh AS maupun sekutunya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap berjalan hingga kesepakatan tercapai.

Perbedaan posisi ini membuat proses perundingan tahap dua yang rencananya berlangsung di Islamabad terhenti.

Bahkan setelah masa gencatan senjata sementara resmi berakhir, tidak ada kemajuan berarti yang dicapai.

Dari dalam negeri, pejabat tinggi Teheran menyampaikan sinyal bahwa negara tersebut tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan eksternal.

Sementara itu, aktivitas sipil mulai dipulihkan secara bertahap di tengah konflik yang masih berlangsung.

Bandara utama seperti Imam Khomeini dan Mehrabad kembali dibuka setelah sempat ditutup akibat eskalasi konflik.

Namun tuntutan utama AS berupa penghentian program nuklir dan penyerahan uranium yang telah diperkaya ditolak oleh Teheran.

Iran menegaskan bahwa program nuklir mereka bertujuan damai dan bukan untuk mengembangkan senjata pemusnah massal.

Sejumlah negara dan organisasi internasional terus mendorong dialog sebagai satu-satunya jalan keluar konflik.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah blokade di Selat Hormuz sebagai kesalahan dari kedua belah pihak.

Rusia menyerukan perpanjangan gencatan senjata sementara China menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan.

China terutama prihatin dengan insiden penyitaan kapal Iran oleh Amerika Serikat di perairan internasional.

Meski begitu, belum ada kepastian mengenai partisipasi Teheran dalam putaran negosiasi berikutnya.

Konflik tidak hanya terbatas pada Iran saja, tetapi juga berdampak pada kawasan lain di Timur Tengah.

Di Lebanon selatan, serangan militer Israel masih berlangsung meskipun ada kesepakatan gencatan senjata terbatas.

Korban jiwa terus bertambah sementara infrastruktur sipil dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat signifikan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa pembicaraan dengan Israel berjalan secara terpisah dari negosiasi Iran-AS.

Di Gaza, kekerasan juga belum sepenuhnya mereda meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan penghentian sementara konflik.

Operasi militer masih dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Gaza tanpa tanda-tanda akan segera berhenti.

Di dalam negeri AS, pemerintah menghadapi tekanan terkait hasil dari operasi militernya melawan Iran.

Sejumlah analis menilai bahwa tujuan utama AS belum sepenuhnya tercapai dalam konflik ini.

Sementara itu, risiko konflik berkepanjangan justru meningkat dari hari ke hari.

Kritik juga muncul dari berbagai pihak, termasuk perdebatan mengenai efektivitas strategi yang diambil Washington.

Namun pemerintah AS tetap mempertahankan pendekatan tekanan maksimum terhadap Iran.

Pendekatan ini dianggap sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Di kawasan Teluk, keamanan menjadi perhatian utama bagi semua negara.

Uni Emirat Arab dilaporkan menangkap sejumlah pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Iran.

Sementara itu, Qatar mulai membuka kembali akses penerbangan internasional setelah sempat membatasi operasional akibat konflik.

Langkah-langkah ini mencerminkan upaya negara-negara di kawasan untuk menjaga stabilitas.

Mereka berusaha bertahan di tengah ketegangan yang belum juga mereda hingga saat ini.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata dengan Iran diperpanjang tanpa batas waktu.

Pernyataan ini disampaikan Trump beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata dua pekan itu berakhir.

Trump menilai langkah ini diambil sebagai upaya memberi ruang bagi kedua negara untuk melanjutkan perundingan damai.

Tujuannya adalah untuk mengakhiri perang yang telah pecah sejak 28 Februari 2026.

Ia juga mengklaim bahwa kebuntuan dalam proses dialog merupakan dampak dari gejolak internal di pemerintahan Iran.

Trump menyebut bahwa keputusan gencatan senjata itu diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan.

Pakistan merupakan mediator dalam proses perdamaian antara Iran dan AS.

Pakistan meminta agar serangan terhadap Teheran ditunda sampai para pihak bisa menyusun proposal yang lebih terpadu.

Namun langkah Trump itu dinilai bersifat sepihak oleh banyak pengamat.

Belum ada kepastian apakah Iran maupun sekutu AS, Israel, akan menyetujui perpanjangan gencatan senjata tersebut.

Sementara itu, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC menyebut Teheran tidak pernah meminta perpanjangan gencatan senjata.

Iran bahkan kembali mengancam akan merespons blokade AS dengan kekuatan penuh.

Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mehdi Mohammadi, menilai pengumuman Trump tidak berbobot.

Ia menyebut pengumuman itu sebagai upaya Trump untuk mengulur waktu saja.

Melalui media sosial X, Mehdi mengatakan perpanjangan gencatan senjata Trump merupakan taktik untuk mempersiapkan serangan kejutan.

Pernyataan Trump soal perpanjangan gencatan senjata bertolak belakang dengan pengumumannya sebelumnya.

Beberapa jam sebelum memutuskan perpanjangan, Trump menyatakan kurang berminat untuk memperpanjang gencatan senjata.

Ia mengatakan tidak ingin melakukan langkah tersebut karena Washington tidak punya banyak waktu dengan Teheran.

Trump juga mengklaim bahwa Teheran tidak memiliki pilihan selain bernegosiasi dengan AS.

Ia menyebut orang-orang Iran luar biasa, tetapi kepemimpinannya terlalu keras dan kaku.

Trump menilai jika Iran mencapai kesepakatan, maka mereka bisa menjadikan negara tersebut lebih kuat.

Merespons hal itu, Teheran menyebut pemerintah AS dan medianya tampak dikelilingi ilusi.

Iran menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di antara pemerintah, parlemen, dan IRGC.

Menurut Tasnim, apa yang dikatakan Trump dalam beberapa hari terakhir mengungkapkan gelombang kebohongan besar.

Kebohongan itu disebut sepenuhnya dapat diverifikasi oleh publik.

Misalnya, tiga hari lalu Trump mengatakan bahwa Steve Witkoff dan Jared Kushner sedang dalam perjalanan ke Islamabad.

Kemudian beberapa saat berikutnya ia mengatakan bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak akan hadir karena masalah keamanan.

"Jika pernyataan Trump diterima begitu saja, maka beberapa pertemuan putaran kedua seharusnya sudah diadakan. Witkoff dan Kushner seharusnya juga sudah kembali ke AS. Jelas bahwa berita ini palsu, dan kepalsuannya menjadi jelas dalam beberapa jam," tulis Tasnim.

Informasi dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Teheran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata.

Pengumuman Trump tentang perpanjangan tanpa batas waktu dapat memiliki beberapa arti menurut para analis.

Arti pertama adalah bahwa Trump telah kalah dalam perang melawan Iran.

Ia telah menguji dan menerapkan semua skenario yang mungkin selama perang berlangsung.

Trump tahu bahwa ia tidak akan mencapai apa pun melalui jalur perang.

Jadi ia menganggap keluar dari perang sebagai cara terbaik bagi dirinya sendiri.

Meskipun perang tidak menghasilkan apa pun bagi AS, Trump dapat melakukan segala cara termasuk penipuan.

Salah satunya adalah dengan mengklaim memperpanjang gencatan senjata tetapi kemudian melakukan tindakan teroris.

Informasi yang diperoleh Tasnim menunjukkan bahwa para pejabat Iran memantau kemungkinan tersebut dengan cermat.

Iran tidak meremehkan skenario bahwa AS akan melakukan serangan kejutan.

Kemungkinan lain adalah AS akan menarik diri dari perang dan Israel akan tetap bertempur sendirian.

Israel disebut akan melanjutkan perang dengan dalih pelanggaran gencatan senjata di Lebanon.

Namun Amerika sebelumnya telah diperingatkan bahwa AS tidak dapat secara sepihak keluar dari perang.

AS tidak bisa tetap melibatkan Israel dalam pertempuran sendirian tanpa dukungan penuh.

Blokade laut yang berkelanjutan berarti kelanjutan permusuhan antara kedua negara.

Iran tidak akan membuka Selat Hormuz setidaknya selama blokade laut masih berlaku.

Teheran bahkan akan menerobos blokade dengan kekerasan jika diperlukan.

Amerika Serikat berupaya untuk menjaga bayang-bayang perang di atas Iran.

Tujuannya adalah menjaga ekonomi dan politik Iran dalam keadaan terhenti.

AS percaya bahwa situasi di Iran sama dengan situasi setelah Perang 12 Hari sebelumnya.

Namun periode saat ini memiliki perbedaan mendasar, yaitu kendali penuh Iran atas Selat Hormuz.

"Jika Amerika ingin mempertahankan bayang-bayang perang, mereka harus tahu bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup sepenuhnya," demikian peringatan dari Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung