Berita, Timur Tengah

Iran Peringatkan Trump Jangan Merasa Menang Saat Temui Xi Jinping di China Guna Bahas Gencatan Senjata

Repelita.id

12 May 2026 22:29 WIB

Iran Peringatkan Trump Jangan Merasa Menang Saat Temui Xi Jinping di China Guna Bahas Gencatan Senjata
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Otoritas Iran secara resmi melayangkan peringatan sangat keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang agenda lawatan diplomatiknya ke Beijing guna menemui Presiden Xi Jinping pekan ini.

Pihak Teheran memberikan penekanan bahwa Washington dilarang keras menafsirkan situasi gencatan senjata yang tengah berlangsung sebagai sebuah bentuk kemenangan, baik dari sisi diplomasi maupun kekuatan militer di lapangan.

ADVERTISEMENT

Pesan bernada ancaman tersebut disampaikan oleh Ali Akbar Velayati yang menjabat sebagai penasihat Pemimpin Tertinggi Iran sekaligus sosok senior yang pernah menduduki posisi Menteri Luar Negeri Iran.

Dalam pernyataannya, Velayati menegaskan bahwa ketenangan situasi regional saat ini sama sekali bukan merupakan indikasi bahwa kedaulatan Iran telah berada dalam posisi yang kalah di hadapan militer Amerika Serikat.

Melalui keterangan resmi, Velayati memperingatkan sang kepala negara Amerika Serikat dengan menyebutkan, “Tuan Trump, jangan pernah membayangkan bahwa dengan memanfaatkan ketenangan Iran saat ini, Anda akan bisa memasuki Beijing secara triumphant (merasa berjaya.menang).”

Lebih lanjut, ia memberikan klaim sepihak mengenai keunggulan posisi pasukannya dalam konfrontasi fisik sebelumnya dengan mengatakan, “Kami mengalahkan Anda di medan perang; jadi jangan pernah berpikir bahwa Anda juga akan keluar sebagai pemenang dalam diplomasi.”

Pernyataan provokatif dari pihak Teheran ini mencuat sebagai respons atas komentar Trump yang menggambarkan status gencatan senjata selama satu bulan terakhir sedang berada dalam kondisi yang sangat rapuh.

Meskipun secara resmi status penghentian kontak senjata masih berlaku, kedua negara dilaporkan masih melakukan tindakan blokade di wilayah perairan strategis Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan satu sama lain.

Kunjungan kenegaraan Trump menuju Beijing sendiri direncanakan bakal berlangsung pada tanggal 13 hingga 15 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi serta pembahasan isu-isu strategis global.

Lawatan perdana pada periode jabatan keduanya ini diprediksi akan menjadi panggung diskusi berat mengenai keamanan internasional, sengketa tarif dagang, hingga akses terhadap komoditas mineral yang dikuasai China.

Pihak pemerintah Beijing sendiri telah menyatakan kesediaan mereka untuk menjalin kolaborasi dengan Washington demi mewujudkan stabilitas keamanan serta ekonomi dunia yang jauh lebih baik di masa depan.

Selain persoalan ekonomi dan perdagangan pesawat Boeing, topik mengenai isu kedaulatan Taiwan serta pengawasan keamanan nuklir internasional dipastikan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan kedua pemimpin dunia tersebut.

Di tengah pusaran konflik, China dianggap memegang peran krusial sebagai jembatan komunikasi rahasia antara pihak Iran dan Amerika Serikat guna mencegah pecahnya peperangan berskala besar di Timur Tengah.

Meskipun tidak diakui secara gamblang, indikasi peran mediasi ini terlihat dari intensitas kunjungan pejabat tinggi Iran serta Pakistan ke Beijing ketika suhu konflik sedang berada pada puncaknya Maret lalu.

Sebagai salah satu konsumen utama minyak mentah produksi Iran, China tetap mempertahankan hubungan dagang yang kuat meskipun harus menghadapi ancaman sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Secara diplomatik, otoritas Beijing terus menyuarakan komitmen mereka bahwa negara tersebut bekerja tanpa lelah demi menjaga perdamaian serta menghindari eskalasi kekerasan lebih lanjut antara Washington dan Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung