Berita, Timur Tengah

Iran Siaga Penuh Hadapi Israel dan AS, Ribuan Warga Tolak Gencatan Senjata di Pemakaman Jenderal IRGC

Repelita.id

10 April 2026 17:32 WIB

Iran Siaga Penuh Hadapi Israel dan AS, Ribuan Warga Tolak Gencatan Senjata di Pemakaman Jenderal IRGC
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Iran menyatakan siaga penuh menghadapi kemungkinan serangan dari Israel dan Amerika Serikat di tengah kerumunan ribuan warga yang menolak kesepakatan gencatan senjata.

Pemandangan langka terlihat di jalanan ibu kota Iran pada Rabu (8/4/2026) dini hari ketika ribuan warga berkumpul dalam gelapnya sebelum subuh.

ADVERTISEMENT

Upacara pemakaman Mayor Jenderal Majid Khademi, Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berubah menjadi panggung protes besar-besaran terhadap gencatan senjata dengan AS.

Teriakan "Hidup Palestina" dan "Matikan Amerika" menggema di antara barisan pelayat yang membakar bendera Amerika Serikat dan Israel di tengah jalan.

Khademi tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Senin (6/4/2026) dini hari di mana militer Israel menyebutnya sebagai komandan paling senior IRGC.

Kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran diumumkan hanya beberapa jam sebelum pemakaman Khademi berlangsung.

Seorang wanita yang ikut dalam prosesi pemakaman meluapkan kekesalannya dengan mengatakan bahwa Amerika telah menunjukkan dirinya seratus kali hingga sekarang.

"Amerika telah menunjukkan dirinya seratus kali hingga sekarang. Kita telah pergi ke meja perundingan dua kali ketika mereka menyerang kita," ujarnya dengan nada getir.

Ia menuduh AS menggunakan gencatan senjata hanya untuk mengulur waktu bagi kepentingan Israel di kawasan.

"Apakah sifat Amerika akan berubah? Saya tidak tahu mengapa mereka menerimanya seperti biasa, mereka ingin mengulur waktu untuk Israel," tambahnya.

Meskipun rakyat protes, pemerintah Republik Islam secara resmi menyambut gencatan senjata sebagai sebuah kemenangan besar.

Presiden Masoud Pezeshkian menyebut gencatan senjata ini sebagai hasil dari pengorbanan para martir termasuk para pemimpin yang gugur.

Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Sayyid Mojtaba Khamenei, menginstruksikan semua cabang militer untuk tetap dalam posisi siaga penuh.

"Ini bukan akhir dari perang. Seluruh cabang militer harus mengikuti perintah dan menghentikan tembakan, tetapi kewaspadaan tetap yang utama," tegas Khamenei.

Peringatan keras juga datang dari IRGC yang menyatakan bahwa jika AS atau Israel melakukan kesalahan sekecil apa pun, balasan akan diluncurkan dengan kekuatan penuh.

"Tangan kami tetap berada di atas pelatuk. Jika musuh melakukan kesalahan sedikit saja, mereka akan menghadapi kekuatan penuh kami," tulis pernyataan resmi IRGC.

Akar dari kemarahan publik ini adalah ketidakpercayaan terhadap niat AS dan Israel setelah serangan besar-besaran ke Lebanon.

Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, Israel melancarkan serangan ke Lebanon yang menewaskan sedikitnya 254 orang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup wilayah Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung mengirimkan ultimatum bahwa AS harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung