Repelita Selat Hormuz - Ketegangan di Selat Hormuz kian mendidih setelah Iran mengambil langkah belum pernah terjadi sebelumnya sejak pecah perang di awal tahun ini.
Di tengah kebuntuan pembicaraan damai yang berkepanjangan, Iran tidak hanya melepaskan tembakan peringatan tetapi juga menyita kapal-kapal dagang yang nekat memaksa keluar melewati jalur strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
Pada Rabu (22/4) waktu setempat, Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan telah menangkap dua kapal kontainer yang berupaya meninggalkan teluk melalui Selat Hormuz setelah sebelumnya ditembaki.
Berdasarkan laporan dari Tasnim, operasi penyitaan ini dilakukan langsung oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di perairan sengketa.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat tersebut akan dianggap sebagai "garis merah" yang tidak boleh dilanggar.
Langkah Iran yang semakin memperketat jalur pelayaran ini berdampak sangat besar terhadap arus perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas bumi dunia setiap harinya.
Dalam kondisi normal, sekitar 130 kapal besar melintas keluar masuk Teluk setiap hari tanpa hambatan berarti.
Namun kini jumlah kapal yang berani melintas menyusut drastis hingga hanya tinggal segelintir kapal saja karena ketakutan akan penyitaan atau serangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga telah memberlakukan blokade ketat terhadap kapal-kapal berbendera Iran setelah beberapa pekan konflik berkecamuk.
Dengan pembicaraan damai yang saat ini terhenti total tanpa titik terang, masa depan pelayaran di jalur vital ini masih diselimuti ketidakpastian yang tinggi.
"Dengan adanya penyitaan terbaru ini memperjelas bahwa bahkan Selat Hormuz yang 'dibuka' pun tidak aman bagi pelaut, kapal, dan kargo," kata Peter Sand, kepala analis platform intelijen logistik Xeneta.
Salah satu kapal yang disita adalah MSC Francesca berbendera Panama yang berusaha keluar secara diam-diam dari kawasan terlarang.
Menteri urusan maritim Montenegro, Filip Radulovic, mengonfirmasi adanya empat pelaut asal negaranya di kapal tersebut dan memastikan seluruh awak dalam kondisi aman.
"Negosiasi antara perusahaan pelayaran dan pihak Iran sedang berlangsung, dan otoritas negara terkait terus menjalin kontak dengan awak kapal," ujarnya sebagaimana dilansir Reuters.
IRGC menuduh MSC Francesca dan kapal lain berbendera Liberia bernama Epaminondas beroperasi tanpa izin yang diperlukan di perairan teritorial Iran.
Kedua kapal tersebut juga dituduh memanipulasi sistem navigasi mereka untuk menghindari deteksi dari radar pantai milik IRGC.
Kapal Epaminondas yang dioperasikan oleh perusahaan asal Yunani dilaporkan ditembaki sekitar 20 mil laut di barat laut Oman.
Menurut laporan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris dan sumber keamanan maritim, kapal tersebut mengalami kerusakan parah pada bagian anjungan.
Kerusakan terjadi setelah kapal terkena tembakan langsung dan granat berpeluncur roket yang ditembakkan dari kapal cepat milik IRGC.
Operator kapal, Technomar Shipping Inc, membenarkan terjadinya serangan bersenjata tersebut dan menyatakan seluruh awak kapal berhasil selamat.
Dalam pembaruan selanjutnya, perusahaan itu mengonfirmasi bahwa Epaminondas telah dinaiki paksa oleh pasukan khusus IRGC yang bersenjata lengkap.
Kapal itu membawa 21 awak yang terdiri dari warga negara Ukraina dan Filipina, menurut keterangan resmi dari penjaga pantai Yunani.
Pihak Yunani sendiri hingga saat ini belum dapat memastikan status penyitaan secara resmi karena terhambat komunikasi dengan Teheran.
"Technomar tetap berkomunikasi erat dengan otoritas terkait di kawasan," kata perusahaan tersebut dalam pernyataan tertulisnya.
"Prioritas kami adalah keselamatan dan kesejahteraan awak kapal, sambil bekerja dengan semua pihak terkait untuk memastikan keselamatan mereka dan segera menyelesaikan situasi ini," lanjut pernyataan tersebut.
Sumber keamanan maritim menyebut kapal yang menyerang Epaminondas hanya diawaki oleh tiga orang personil IRGC yang sangat terlatih.
Nakhoda kapal juga melaporkan tidak ada komunikasi radio sama sekali sebelum serangan dilancarkan, meskipun kapal telah mengantongi izin melintas sebelumnya.
Kapal Epaminondas kini diperkirakan sedang diarahkan paksa menuju Bandar Abbas untuk menjalani proses investigasi lebih lanjut oleh otoritas Iran.
Sementara itu, MSC Francesca dilaporkan terkena tembakan sekitar delapan mil laut di barat Iran namun tidak mengalami kerusakan berarti.
Seluruh awak kapal tersebut juga dilaporkan dalam keadaan selamat dan tidak mengalami cedera serius akibat serangan mendadak tersebut.
Sebuah kapal ketiga bernama Euphoria berbendera Liberia juga dilaporkan menjadi sasaran tembakan di area perairan yang sama.
Namun kapal tersebut tidak mengalami kerusakan berarti dan berhasil melanjutkan pelayaran hingga mencapai Fujairah di Uni Emirat Arab.
Menurut sejumlah sumber intelijen maritim, ketiga kapal tersebut berusaha keluar dari Selat Hormuz secara beriringan pada dini hari dengan cara mematikan sistem navigasi.
Penyitaan besar-besaran ini menjadi yang pertama kali terjadi sejak tahun 2024 ketika Iran menangkap kapal kontainer MSC Aries di wilayah yang sama.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai jenis muatan yang dibawa oleh kapal-kapal tersebut saat berusaha menerobos blokade Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok