Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku bahwa Iran berhasil menyerang kapal induk bertenaga nuklir milik Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, dari 17 sudut berbeda secara serentak hingga memaksa awak kapal berlarian menyelamatkan diri .
Dalam pidatonya di sebuah forum investasi Saudi di Miami pada Jumat (27/3/2026), Trump menggambarkan momen tersebut sebagai "situasi yang sangat serius" bagi Angkatan Laut AS, dan ia mengutip pernyataan komandannya bahwa "kami harus berlari untuk menyelamatkan nyawa, semuanya sudah berakhir" .
ADVERTISEMENT
Insiden yang terjadi di Laut Merah ini dilaporkan memaksa kapal induk tercanggih dan terbesar di dunia itu untuk mundur dari posisinya dan menyingkir ke Pulau Crete, Yunani, untuk menjalani perbaikan .
Pentagon sebelumnya menyebut bahwa kapal yang mengalami kebakaran akibat masalah kelistrikan di ruang cuci itu tetap dalam kondisi "siap penuh untuk bertugas", namun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menolak narasi tersebut sebagai hal yang tidak masuk akal .
IRGC bahkan menyindir, "Raksasa militer macam apa ini yang menghadapi krisis dan dipaksa meninggalkan medan perang hanya karena kebakaran di ruang cuci?" .
Sebelum kejadian terhadap USS Gerald R. Ford, IRGC juga mengklaim telah berhasil meluncurkan drone serta rudal ke kapal induk USS Abraham Lincoln serta menembak jatuh jet tempur musuh .
Merespons klaim ini, Kepala Komando Pusat AS menyatakan bahwa intensitas serangan Iran mulai menurun, meskipun intelijen AS menilai Iran masih memiliki kemampuan rudal yang signifikan .
Analisis independen menyebutkan bahwa taktik yang digunakan Iran kemungkinan adalah perang asimetris yang memanfaatkan serangan massal dari berbagai arah untuk membuat sistem pertahanan Aegis kewalahan .
Simulasi perang The Millennium Challenge 2002 yang melibatkan 13.000 personel dan menghabiskan biaya 250 juta dolar AS membuktikan bahwa kapal induk super AS rentan terhadap serangan mendadak dari "gerombolan kapal kecil" dan rudal yang diluncurkan secara bersamaan .
Para analis Iran dipercaya telah mengetahui batas kemampuan komputasi persenjataan AS, di mana sistem akan mengalami masalah jika harus memproses respons terhadap serangan masif yang dijalankan secara serentak dalam pertempuran nyata .
Karena itu, serangan dari 17 titik secara bersamaan seperti yang diakui Trump tampaknya dirancang khusus untuk membuat sistem radar dan komputer kapal induk buta, sehingga kapal tidak punya pilihan selain meninggalkan medan perang untuk menghindari kehancuran total .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok