Repelita Teheran - Korea Selatan secara khusus melakukan upaya koordinasi agar Republik Islam Iran mengizinkan kapal tanker mereka melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa navigasi yang aman melalui Selat Hormuz bergantung sepenuhnya pada kerja sama dengan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.
ADVERTISEMENT
Hal itu dapat terwujud dengan syarat pihak lawan, yakni Amerika Serikat dan Israel, mematuhi komitmen gencatan senjata serta mempertimbangkan kendala teknis yang ada di lapangan.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, ternyata telah menghubungi Araqchi melalui sambungan telepon pada Kamis (9/4/2026) untuk membahas masalah ini.
Dalam percakapan tersebut, Araqchi menjelaskan situasi terkini di kawasan setelah deklarasi gencatan senjata dalam perang agresi AS-Israel terhadap Iran.
Ia menyampaikan apresiasi atas sikap yang diambil oleh berbagai negara, termasuk Korea Selatan, dalam mendukung penghentian perang dan penetapan gencatan senjata.
Araqchi juga menekankan perlunya semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata ini sebagai dasar mencapai pengakhiran konflik secara menyeluruh di semua lini.
Mengenai situasi di Selat Hormuz, Araqchi menyatakan bahwa jalur aman akan dimungkinkan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran.
Namun itu dengan catatan tegas bahwa pihak lawan harus menghormati komitmennya selama periode gencatan senjata dan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.
Sebagai tanggapan, Cho Hyun menyambut baik pengumuman gencatan senjata dan penghentian permusuhan di semua lini yang telah disepakati.
Ia menggarisbawahi pentingnya menghentikan serangan militer di seluruh wilayah serta memastikan stabilitas dan keamanan yang berkelanjutan melalui negosiasi yang nyata.
Kedua menteri luar negeri juga bertukar pandangan tentang hubungan bilateral antara Teheran dan Seoul serta kerja sama konsuler yang dapat ditingkatkan ke depan.
Sementara itu, Republik Islam Iran dikabarkan tengah menangguhkan upaya negosiasi di tengah gencatan senjata yang dijanjikan Amerika Serikat dan Israel.
Laporan dari beberapa media bahwa tim negosiasi Iran telah tiba di Islamabad untuk bernegosiasi dengan Amerika adalah sepenuhnya salah, demikian keterangan resmi Tasnim News pada Jumat (10/4/2026).
Langkah penangguhan ini diambil selama Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya terhadap gencatan senjata di Lebanon karena rezim Zionis Israel terus melakukan serangan.
Dalam gencatan senjata yang disepakati selama dua minggu ini, Republik Islam telah menyodorkan sepuluh syarat, di antaranya penghentian total agresi militer termasuk ke Lebanon.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok