Repelita [Jakarta] - Pemerintah Iran secara resmi menolak melakukan dialog langsung dengan delegasi Amerika Serikat yang saat ini berada di Timur Tengah untuk merundingkan perdamaian.
Ketegasan posisi Teheran ini memicu keraguan baru terhadap stabilitas gencatan senjata serta proses penyelesaian konflik permanen antara kedua negara.
ADVERTISEMENT
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memastikan tidak ada pertemuan dengan pihak Washington dalam waktu dekat.
Tidak ada pertemuan di tingkat mana pun dengan pihak Amerika yang dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang, tegas Baghaei, Selasa (1/7/2026).
Meskipun Jared Kushner dan Steve Witkoff selaku utusan khusus AS telah tiba di Doha, Iran memilih untuk tetap berkomunikasi melalui pihak mediator.
Qatar, dalam kapasitasnya sebagai penengah, menjadi penghubung utama bagi kedua kubu guna membahas teknis implementasi kesepakatan penghentian permusuhan.
Agenda pembicaraan saat ini masih berfokus pada tahapan gencatan senjata sebelum berlanjut ke isu yang lebih sensitif, termasuk terkait pembatasan program nuklir.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump dilaporkan sempat mempertimbangkan opsi militer sebagai langkah alternatif, meskipun saat ini lebih memilih menempuh jalur diplomatik.
Situasi di Selat Hormuz sendiri mulai berangsur normal, meski Teheran tetap mengklaim hak kedaulatan atas pengelolaan lalu lintas di jalur strategis tersebut.
Ketua negosiator Iran, Mohammed Baqer Qalibaf, bahkan mengisyaratkan rencana penerapan tarif bagi kapal yang melintas setelah periode negosiasi berakhir.
Kedaulatan atas Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lalu lintas di selat tersebut tunduk pada pengaturan yang ditentukan Iran, ujarnya.
Rencana sepihak tersebut segera dibantah oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menegaskan penolakan keras Washington terhadap pemungutan biaya di jalur internasional. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok