Repelita Teheran - Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Muda Alireza Tangsiri menyatakan bahwa kawasan Selat Hormuz tertutup untuk selamanya bagi kapal-kapal milik Zionis Israel.
Pihaknya telah menyiapkan rencana aturan baru yang komprehensif untuk mengatur navigasi melalui jalur perairan strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
Sedikitnya ada 12 langkah yang bakal diterapkan Teheran terkait hal itu termasuk larangan permanen bagi kapal-kapal Israel.
"Selat Hormuz adalah wilayah yang strategis ini sangat penting saya mohon semua memberikan perhatian besar, pada hal ini kita memiliki hak hukum yang sah atau wilayah ini, namun selama bertahun-tahun kita tidak memanfaatkannya," ucap Tangsiri.
"Negara manapun baik kawan maupun lawan bisa melintasi Selat Hormus, baik yang tidak berbahaya maupun yang berbahaya tanpa memberi perhatian ke Iran," sambungnya menjelaskan kondisi sebelumnya.
Dalam rencana baru itu Iran juga mewajibkan kapal-kapal dari negara-negara yang bersekutu dengan Amerika dan Israel untuk membayar ganti rugi.
Ganti rugi tersebut akibat dari agresi dua negara itu terhadap Teheran yang telah memakan banyak korban.
"Iran telah mengembangkan rencana komprehensif untuk mengelola penuh Selat Hormuz di tengah blokade dan juga agresi laut yang dilakukan Amerika," tegas Tangsiri.
Sedangkan kapal-kapal yang tidak terafiliasi dengan Amerika dan Israel hanya memerlukan izin sederhana dari Iran untuk melintas.
"Kapal dagang dan juga kapal angkatan laut yang berlayar di Selat Hormuz harus memperoleh izin dari Iran," timpal Tangsiri.
Kapal-kapal ini akan diwajibkan untuk membayar biaya terkait dengan keamanan, perlindungan lingkungan, manajemen pelayaran, dan penerbitan izin.
Pembayaran diprioritaskan dalam mata uang nasional Republik Islam yaitu Rial Iran.
"Namun perang ini membuat kita menyadari kekuatan geopolitik dan kekuatan geostrategis kita sendiri. Dan hari ini kita telah menempatkan selat ini di bawah kendali strategis kita sendiri," tegasnya.
Ia mengatakan bahwa IRGC siaga penuh di sisi barat selat sementara Angkatan Darat Republik Islam berada di sisi timur selat.
"Sekarang mereka mengendalikan selat ini dengan penuh kekuatan. Dan tidak ada kapal baik kawan maupun lawan yang memiliki hak untuk melintasi tanpa izin dari pasukan kami," tegasnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat seiring dengan pernyataan Washington yang akan mengawal kapal-kapal melewati Selat Hormuz mulai hari Senin (4/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan Presiden AS Donald Trump menyikapi banyaknya kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk Persia sejak perang pecah.
Trump memperingatkan bahwa segala bentuk gangguan akan ditanggapi dengan tegas terutama jika berasal dari Iran.
Keputusan ini merupakan respons cepat terhadap eskalasi di wilayah vital perdagangan dunia.
"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulis Trump melalui akun media sosial pribadinya.
Langkah ini otomatis menambah ketegangan AS-Iran yang sudah memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Komandan IRGC langsung bereaksi cepat dengan pernyataan Trump yang dinilai provokatif.
"Kami siap tutup selat jika perlu," kata Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh dari IRGC kepada Fars News.
Ini bukan ancaman kosong karena Iran pernah menyerang kapal tanker di selat tersebut pada tahun 2019.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit Selat Hormuz setiap harinya.
Karena itu ancaman gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak besar terhadap harga energi global.
Langkah pengawalan kapal tersebut juga menandai meningkatnya keterlibatan militer Amerika di kawasan Teluk Persia.
Dalam beberapa bulan terakhir konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus berkembang.
Serangan militer, ancaman balasan, hingga ketegangan diplomatik membuat kawasan Timur Tengah berada dalam situasi sangat rawan.
Sebelumnya Iran sempat menegaskan bahwa Selat Hormuz dapat ditutup jika tekanan militer dan blokade laut terus dilakukan.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran besar di pasar global dan membuat harga minyak melonjak.
Axios melaporkan bahwa Iran telah menetapkan tenggat waktu kepada AS untuk mencabut blokade laut.
Pembicaraan nuklir baru hanya akan dilakukan jika blokade dicabut dan gencatan senjata permanen tercapai.
Situasi itu membuat Washington mulai meningkatkan kesiapan militernya di kawasan secara signifikan.
Selain pengawalan kapal, militer AS juga memperkuat armada laut dan sistem pertahanan di sekitar Teluk Persia.
Beberapa media Amerika melaporkan kapal induk USS Abraham Lincoln berada dalam posisi siaga tinggi.
Sejumlah kapal perusak rudal juga ikut dikerahkan untuk mendukung operasi pengawalan di selat.
Selat Hormuz sejak lama menjadi titik strategis dalam konflik Timur Tengah yang tak pernah reda.
Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi akses utama ekspor minyak.
Negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait sangat bergantung pada jalur ini.
Karena perannya sangat vital, setiap ancaman di kawasan tersebut langsung mempengaruhi harga minyak dunia.
Dalam konflik terkini Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian global.
Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan tekanan ekonomi dan militer secara sistematis.
Pejabat Iran menegaskan bahwa negaranya tidak takut terhadap ancaman militer Washington.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran mampu mengambil langkah sendiri.
“Anda boleh memberlakukan blokade apa saja yang Anda inginkan — kami mampu mengambil tindakan sendiri,” kata Araghchi.
Pernyataan itu muncul setelah laporan Wall Street Journal menyebut Trump ingin melanjutkan blokade laut berkepanjangan.
Hal tersebut dimaksudkan untuk memaksa Teheran menyerah terkait program nuklirnya.
Bloomberg melaporkan bahwa Angkatan Darat AS tengah mempersiapkan pengerahan rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah.
Rudal tersebut mampu melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 5 dan sulit dicegat sistem pertahanan biasa.
Di sisi lain Iran juga terus menunjukkan kekuatan militernya secara terbuka.
Korps Garda Revolusi Islam beberapa kali memamerkan rudal Fattah dan Khaibar Shekan.
Komandan IRGC Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi memperingatkan bahwa serangan baru akan dibalas dua kali lebih besar.
Ia menegaskan semua serangan sebelumnya dapat dikalikan dua jika AS dan Israel melanggar gencatan senjata.
Ancaman itu membuat banyak negara mulai khawatir perang akan berubah menjadi konflik regional yang lebih luas.
Dunia kini khawatir dengan potensi lonjakan harga minyak dan konflik kemanusiaan yang lebih besar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok