Repelita Jakarta - Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di jantung kota Israel pada Kamis, 2 April 2026.
Data yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa serangan ini menghantam beberapa titik lokasi strategis, meliputi pangkalan laut, wilayah Yerusalem, serta kota Arad yang berada di bagian selatan wilayah Zionis.
ADVERTISEMENT
Di Kota Arad saja, dilaporkan setidaknya enam orang tewas dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka akibat hantaman rudal tersebut.
Media setempat menyebutkan bahwa sebuah roket seberat 450 kilogram jatuh di kota tersebut, yang secara gamblang diakui sebagai kegagalan sistem pertahanan udara Israel dalam melakukan proses pencegatan.
Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian eskalasi konflik yang terus meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Pada Rabu, 1 April 2026, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah berhasil menghancurkan sebuah kapal kontainer milik Israel yang berlayar di perairan Teluk Persia.
Akibat serangan yang dilakukan nyaris tanpa henti ini, sirene peringatan bahaya udara terus menerus berbunyi di Yerusalem dan wilayah Israel tengah, dengan laporan suara ledakan yang terdengar hingga ke daerah Ramallah.
Informasi berikutnya menyebutkan bahwa Teheran telah meluncurkan sekitar sepuluh rudal balistik ke wilayah Israel tengah pada Rabu siang, yang dikabarkan sebagai salah satu salvo rudal terbesar sejak konflik antara kedua negara meningkat tajam.
IRGC mengklaim bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan gelombang ke-88 dalam rangkaian Operasi True Promise 4 atau Janji Sejati 4 pada akhir Maret hingga April tahun ini.
Serangan ini secara khusus menargetkan radar peringatan dini dan infrastruktur militer Israel serta aset milik Amerika Serikat yang berada di kawasan Teluk.
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan adanya penggunaan berbagai jenis rudal berat dalam serangan yang memiliki sandi "Ya Fatimah al-Zahra" tersebut.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengejek Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan menyatakan bahwa bunyi sirene rudal yang berulang dan rasa ketakutan di dalam tempat perlindungan adalah "hadiah liburan" untuk warga Israel.
Dalam sebuah unggahan yang ditulis dalam bahasa Ibrani di akun X miliknya pada tanggal 2 April 2026, Brigadir Jenderal Majid Mousavi mengungkapkan kondisi mengerikan di balik serangan tersebut.
Menurut pernyataannya, bunyi sirene yang berulang kali telah membuat gemetar seluruh tempat perlindungan bawah tanah yang sempit dan gelap di wilayah pendudukan di bawah gempuran rudal Iran.
Ia juga mengatakan bahwa kondisi seperti itu secara nyata mencerminkan sebagian dari "hadiah" yang diberikan Netanyahu kepada para warga Zionis selama masa liburan berlangsung.
Sementara itu, IRGC telah mengumumkan kelanjutan Operasi Janji Sejati 4 dengan meluncurkan kombinasi rudal balistik berat jenis Qiam, Emad, dan Qadr yang diarahkan menuju wilayah Israel.
Hasil dari serangan gabungan tersebut dinilai mengerikan karena sebuah "sabuk api" membentang luas dari wilayah Ramat Gan hingga Holon, Palmachim, dan Bnei Brak yang berada di timur Tel Aviv.
Media Israel sendiri secara terbuka mengonfirmasi adanya kerusakan parah, korban jiwa, serta runtuhnya sebuah bangunan bertingkat di daerah Petah Tikva akibat serangan rudal Iran.
Dua juta warga Israel dilaporkan bergegas panik menuju tempat perlindungan, sebuah peristiwa yang menciptakan kekacauan terbesar di wilayah tersebut sejak berlangsungnya Perang Yom Kippur.
Seorang analis militer yang dikutip oleh Channel 14 Israel menggambarkan serangan ini sebagai yang "paling signifikan" sejak minggu kedua perang berkecamuk.
Rudal-rudal Iran tersebut dinilai tidak hanya berhasil menembus langit-langit pertahanan udara, tetapi juga secara efektif menembus mitos selama ini bahwa sistem Iron Dome mampu menangkal segala jenis ancaman rudal.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok