Repelita Washington - Upaya meredakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Israel dan Lebanon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade duduk bersama dalam pembicaraan damai di Washington.
Salah satu poin utama yang dibahas dalam pertemuan yang dimediasi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tersebut adalah pelucutan senjata Hizbullah, kelompok yang dilabeli organisasi teroris oleh Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Pertemuan itu menghasilkan sinyal kuat bahwa kedua negara memiliki kepentingan bersama untuk mengakhiri pengaruh militer Hizbullah di Lebanon.
Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menyebut pertemuan tersebut sebagai tonggak bersejarah setelah 33 tahun tanpa adanya dialog langsung serupa antara kedua negara.
"Amerika Serikat mengucapkan selamat kepada kedua negara atas tonggak sejarah ini dan menyatakan dukungannya untuk pembicaraan lebih lanjut, dan untuk rencana pemerintah Lebanon memulihkan monopoli kekuatan dan mengakhiri pengaruh arogan Iran," ujarnya.
Leiter menegaskan bahwa baik Israel maupun Lebanon kini berada di sisi yang sama dalam upaya mengakhiri dominasi Hizbullah yang didukung oleh Iran.
"Kami menemukan hari ini bahwa kami berada di sisi yang sama dari persamaan tersebut.
Kami berdua bersatu dalam membebaskan Lebanon dari kekuatan pendudukan yang didominasi oleh Iran bernama Hizbullah," lanjut duta besar Israel tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah Lebanon telah menyampaikan sikap tegas untuk tidak lagi berada di bawah bayang-bayang Hizbullah.
Menurut Leiter, momentum pelucutan senjata Hizbullah muncul setelah kelompok tersebut melemah akibat hampir tiga tahun konflik dengan Israel.
Kelompok Hizbullah diketahui memiliki kekuatan militer sendiri di luar kendali pemerintah Beirut sekaligus berperan sebagai partai politik.
Di sisi lain, Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh, tidak secara langsung mengomentari detail kesepakatan pelucutan senjata tersebut.
Ia lebih menekankan urgensi gencatan senjata dan penanganan krisis kemanusiaan yang terjadi di negaranya.
"Saya juga menyerukan adopsi langkah-langkah praktis untuk meringankan krisis kemanusiaan parah yang terus dialami Lebanon akibat konflik yang sedang berlangsung," kata Hamadeh.
Konflik yang terus berlangsung telah menyebabkan lebih dari 2.000 korban jiwa di Lebanon sejak awal Maret, serta ratusan ribu warga mengungsi akibat serangan lintas perbatasan.
Marco Rubio menegaskan bahwa perundingan ini bukanlah solusi instan, melainkan langkah awal menuju perdamaian jangka panjang di kawasan.
"Semua kompleksitas masalah ini tidak akan terselesaikan dalam enam jam ke depan, tetapi kita dapat mulai bergerak maju dan menciptakan kerangka kerja untuk sesuatu yang sangat permanen," ucap Rubio.
Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri baku tembak antara militer Israel dan Hizbullah yang masih berlangsung hingga kini.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga menegaskan bahwa tujuan utama pembicaraan adalah pelucutan Hizbullah secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Namun demikian, jalan menuju perdamaian masih terjal karena tokoh senior Hizbullah, Wafiq Safa, menolak hasil perundingan tersebut.
Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan terikat pada kesepakatan apa pun yang dihasilkan dari pertemuan di Washington.
"Mengenai hasil negosiasi antara Lebanon dan musuh Israel ini, kami sama sekali tidak tertarik atau peduli dengan mereka.
Kami tidak terikat oleh apa yang mereka setujui," tegas Safa.
Pernyataan ini menunjukkan potensi hambatan serius dalam implementasi kesepakatan sekaligus menegaskan kompleksitas konflik yang melibatkan aktor negara dan non-negara di Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok