Berita, Nasional

Istilah ‘Londo Ireng’ Bikin Heboh, Hendri Satrio Tak Mau Lagi Disebut Pengamat Politik: Mulai Hari Ini Saya Komika

Repelita.id

28 July 2026 21:55 WIB

Istilah ‘Londo Ireng’ Bikin Heboh, Hendri Satrio Tak Mau Lagi Disebut Pengamat Politik: Mulai Hari Ini Saya Komika
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kegaduhan politik akibat lontaran istilah kolonial oleh kepala negara direspons dengan gaya jenaka oleh pengamat kebijakan publik terkemuka.

Pernyataan bersayap yang menyasar kalangan penelaah independen membuat Hensa berkelakar ingin beralih haluan profesi secara total.

ADVERTISEMENT

Keputusan berseloroh tersebut diambil agar dirinya terhindar dari pengelompokan sosial yang tengah hangat diperbincangkan publik.

Melalui akun media sosial X miliknya, @HendriSatrio pada Kamis (23/7/2026), ia menuliskan kelakar berikut.

Saya jadi Komika Politik aja, jangan disebut Pengamat lagi, supaya tidak termasuk dalam kategori ‘itu’, setuju ya @pandji @davidnurbianto @FahmiAgustian @NOTASLIMBOY?

Pidato kenegaraan yang menyinggung keberadaan pihak-pihak berpihak asing memantik reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat sipil.

Presiden sebelumnya menyatakan bahwa kelompok mentalitas penjajah tersebut kini menyamar menggunakan beragam atribut profesi termasuk kalangan analis.

Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada.

Hanya dia sekarang pakai baju lain, ujar Prabowo.

Respon bernada komedi sengaja dipilih lantaran gaya penyampaian kepala negara kerap dibumbui unsur humor dalam setiap kesempatan.

Saya paham ada unsur bercandanya dalam selorohan Presiden.

Makanya saya respons juga dengan bercanda, sekalian saja mengaku sebagai komika politik.

Cuma, namanya juga candaan Presiden, tetap saja bisa membuat pengamat seperti saya sedikit deg-degan, kata Hensa.

Fungsi kontrol sosial melalui kritik tajam ditegaskan tetap krusial demi menjaga arah roda pemerintahan agar tidak menyimpang dari konstitusi.

Kalau pengamat yang tugasnya mengamati kemudian dianggap sebagai ‘londo ireng’, ya lebih aman saya menjadi komika politik saja.

Kalau melontarkan kritik, nanti bisa dibilang sedang bercanda.

Padahal, kritik dan pengawasan itu diperlukan agar pemerintah tetap berjalan pada jalur yang benar, ujarnya.

Kritik tajam turut dilontarkan akademisi senior yang menilai diksi masa lalu tersebut sudah tidak memiliki relevansi objektif di era modern.

Londo Ireng tuh adanya dalam imajinasi.

Karena udah berabad-abad orang lupa bahwa dulu orang Afrika disogok oleh Belanda untuk jadi tentara bayaran, sekarang enggak jelas mana tentara bayarannya, kata Rocky.

Sikap antisipasi dikemukakan agar perbedaan sudut pandang tidak serta-merta dilabeli sebagai pengkhianatan terhadap kepentingan nasional.

Jangan sampai semua yang mengkritik kemudian dicurigai sebagai antek asing atau pembantu penjajah.

Bisa saja mereka ingin menyampaikan sesuatu karena ingin pemerintah berhasil.

Kalau semua harus diam dan hanya boleh memuji, nanti pengamat politik benar-benar lebih cocok beralih profesi menjadi komika, pungkas Hensa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung