Repelita Roma - Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni secara resmi mengumumkan penangguhan perjanjian pertahanan negaranya dengan Israel di tengah memanasnya hubungan diplomatik kedua negara.
Keputusan ini diumumkan Meloni ketika dirinya tengah menghadiri sebuah acara festival di kota Verona pada Selasa, 14 April 2026, sebagaimana dikutip dari laporan Aljazeera.
ADVERTISEMENT
"Mengingat situasi saat ini, pemerintah telah memutuskan untuk menangguhkan perpanjangan otomatis perjanjian pertahanan dengan Israel," ucap Meloni dalam pernyataannya di hadapan publik.
Perjanjian bilateral antara Italia dan Israel sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 2003 ketika mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan pihak Israel.
MoU tersebut kemudian diratifikasi oleh Italia pada tahun 2005 dan disusul oleh Israel setahun kemudian pada tahun 2006.
Perjanjian itu mengatur kerja sama di berbagai sektor industri pertahanan, termasuk pendidikan dan pelatihan personel militer kedua negara.
Selain itu, kerja sama juga mencakup bidang penelitian dan pengembangan serta teknologi informasi yang diperbarui secara otomatis setiap lima tahun sekali.
Ketegangan antara Roma dan Tel Aviv belakangan ini terus meningkat, salah satu pemicu utamanya adalah insiden penembakan oleh Israel terhadap konvoi pasukan penjaga perdamaian Italia di Lebanon.
Meskipun insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan hanya merusak satu kendaraan, Pemerintah Italia tetap merespon dengan kemarahan dan kekecewaan mendalam.
Sebagai bentuk protes, Italia kemudian memanggil duta besar Israel yang bertugas di Roma untuk menyampaikan keberatan resmi atas tindakan tersebut.
Pemerintah Italia juga diketahui turut mengecam secara keras serangkaian agresi militer Israel yang dilancarkan di wilayah Lebanon.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan bahwa serangan Israel di Lebanon yang menyasar warga sipil adalah tindakan yang tidak dapat diterima sama sekali.
Pada Senin, 13 April 2026, Tajani melakukan kunjungan ke Beirut dan bertemu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun serta Menteri Luar Negeri Lebanon Yousef Raggi.
Tidak lama setelah pertemuan tersebut, Tajani mengunggah pernyataan melalui akun X resminya yang menyampaikan solidaritas Italia kepada Lebanon.
"Menyampaikan solidaritas Italia menyusul serangan Israel yang tak dapat diterima terhadap penduduk sipil," tulis Tajani dalam cuitannya.
Sementara itu, pemerintah otoritas Israel telah memberikan tanggapan resmi terhadap keputusan penangguhan perjanjian pertahanan oleh Italia.
Menurut pihak Israel, mereka mengklaim tidak memiliki perjanjian pertahanan semacam itu dengan Roma dan hanya memiliki nota kesepahaman dari tahun-tahun sebelumnya.
"Kita memiliki nota kesepahaman dari bertahun-tahun yang lalu yang tidak pernah berisi konten substantif apa pun. Ini tidak akan memengaruhi keamanan Israel," ungkap Kementerian Luar Negeri Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Kemenlu Israel saat dimintai tanggapan soal langkah yang diambil Perdana Menteri Giorgia Meloni.
Di sisi lain, pemimpin oposisi Israel Yair Lapid justru memberikan pandangan berbeda terkait keputusan Italia tersebut.
Lapid menilai langkah Italia menangguhkan perjanjian pertahanan merupakan bukti nyata kegagalan dari pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Meloni bukanlah pemimpin Eropa sayap kiri-progresif; dia berada di kubu sayap kanan-konservatif dan memahami perlunya memerangi terorisme," ucap Lapid.
"Pemerintah telah gagal memajukan kepentingan Israel bahkan dengan orang-orang yang seharusnya menjadi teman dan sekutu alami kita," tambahnya.
Lapid kemudian menegaskan bahwa pihak oposisi akan kembali membentuk pemerintahan dan menjadikan Israel sebagai negara yang ingin dicintai semua orang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok