Repelita [Jakarta] - Wacana mengenai agenda pidato Presiden Prabowo Subianto sepanjang Juli 2026 belakangan santer diperbincangkan di media sosial.
Spekulasi tersebut turut menyeret kekhawatiran para investor terhadap stabilitas pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
ADVERTISEMENT
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, memilih bersikap irit bicara mengenai kaitan pidato tersebut dengan pasar.
Namun, ia menegaskan pentingnya bagi setiap investor untuk tetap mengedepankan logika rasional dalam menanggapi dinamika pasar yang saat ini cenderung volatile.
“Saya kayaknya no comment, tapi intinya mohon investor tetap rasional, ya, khususnya dalam kondisi pasar yang demikian dinamis dan volatile, banyak aspek memang yang mau tidak mau mempengaruhi pergerakan harga di pasar,” kata Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/6/2026).
Hasan secara khusus mengingatkan agar para pelaku pasar selalu berpijak pada analisis fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
“Jangan cuma sekadar lihat ticker code yang 4 huruf gitu, ya. Nah, di balik kegiatan operasional itu ada keterbukaan informasi. Yang jelas, laporan keuangan setiap kuartalnya harus dipublikasikan dan menjadi sarana untuk menilai kira-kira value-nya si perusahaan itu sudah cukup murah, kemahalan, dan bagaimana prospeknya ke depan dilihat dari tren yang ada,” kata Hasan.
Selain itu, ia menyarankan agar investor ritel lebih cermat memantau berbagai aksi korporasi yang dilakukan emiten guna menghindari pengambilan keputusan berbasis informasi yang tidak akurat.
“Kemudian setiap kali ada aksi korporasi juga selalu disandingkan dengan kewajiban untuk keterbukaan informasi. Nah, tolong itu dicermati lebih jauh, jangan hanya baca atau menyimak yang ada di media sosial semata ya,” ujar Hasan.
Dalam mengonsumsi informasi, Hasan juga mendorong masyarakat untuk lebih selektif dan memprioritaskan konten-konten edukatif yang berkaitan dengan teknis pasar modal.
“Bahwa itu ada benarnya tentu juga ada sebagian para content provider di sosmed kan juga cukup baik ya, mengedukasi melalui pendekatan fundamental, technical analysis, kadang-kadang mengupas tentang laporan keuangan terakhir,” ujar Hasan.
Menurutnya, informasi yang edukatif jauh lebih berharga dibandingkan menyerap opini liar yang tidak memiliki dasar hukum atau keterkaitan langsung dengan kinerja perusahaan.
“Nah saya kira itu lebih bagus dijadikan acuan dibanding hal-hal yang sifatnya tidak rasional gitu ya, atau tidak ada kaitan langsung dengan saham-saham yang melakukan kegiatan operasional secara normal dari waktu ke waktu,” kata Hasan. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok