Repelita [Jakarta] - Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Gerakan Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat Yogyakarta menggelar forum dialog serta orasi kebangsaan pada tanggal 12 Agustus 2026.
Agenda utama pertemuan tersebut memuat tuntutan mendesak agar kepala negara segera menerbitkan dekrit untuk memulihkan konstitusi dasar ke bentuk aslinya tanpa amendemen.
ADVERTISEMENT
Sejumlah tokoh nasional purnawirawan perwira tinggi militer, akademisi, hingga tokoh masyarakat turut hadir menyampaikan pandangan kritis dalam forum penting tersebut, termasuk M Rizal Fadillah.
Deretan tokoh yang berorasi di antaranya Jenderal Purnawirawan Tyasno Sudarto, Amien Rais, Marsekal Purnawirawan Hanafi Asnan, serta Letnan Jenderal Purnawirawan Setyo Sularso.
Tokoh lain yang ambil bagian meliputi Sukri Fadholi, Rohmat Wahab, Muhammad Chirzin, Zulkifli Ekomei, Sutoyo Abadi, Iskundarti Adnan, serta M Rizal Fadillah.
Rangkaian acara ditutup melalui pembacaan maklumat sikap oleh Brigadir Jenderal Purnawirawan Santoso yang merangkum sembilan poin tuntutan utama gerakan tersebut.
Poin desakan mencakup penerbitan dekrit pemulihan UUD 1945 asli, peraturan pengganti undang-undang perampasan aset, perombakan serta perampingan kabinet, hingga pergantian kepala kepolisian nasional.
Tuntutan lanjutan dalam maklumat tersebut juga menyerukan proses hukum terhadap Joko Widodo, pemakzulan Gibran, pemberantasan paham komunis, evaluasi wewenang parlemen, dan hukuman mati bagi koruptor.
Pihak presidium pusat yang diwakili M Rizal Fadillah menyatakan dukungan penuh terhadap desakan pengeluaran dekrit dengan berpijak pada landasan hukum konvensi atau kebiasaan ketatanegaraan.
Kekuatan massa rakyat dipandang sebagai syarat mutlak demi merealisasikan seluruh tuntutan perubahan di tengah pandangan bahwa konstitusi telah dijalankan secara menyimpang dari nilai moral.
Peran sentral sebagai motor penggerak pergerakan di Yogyakarta diemban oleh Jenderal Purnawirawan Tyasno Sudarto yang melontarkan ultimatum keras agar dekrit rakyat segera diwujudkan.
Kota Yogyakarta kembali dipilih sebagai titik awal perjuangan historis mengingatkan perannya sebagai benteng pertahanan ibu kota negara pada awal masa kemerdekaan tahun 1946 silam.
Semangat perlawanan terhadap cengkeraman kaum oligarki diharapkan mampu tersulut kembali dari kota pelajar tersebut demi menegakkan kedaulatan seluruh rakyat Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok