Berita, Nasional

Jhon Sitorus: Sikap Indonesia yang Lemah terhadap Serangan AS-Israel Sebabkan Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

Repelita.id

29 March 2026 13:30 WIB

Jhon Sitorus: Sikap Indonesia yang Lemah terhadap Serangan AS-Israel Sebabkan Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pegiat media sosial, Jhon Sitorus, secara blak-blakan mengaitkan sulitnya dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping melintasi Selat Hormuz dengan sikap politik Indonesia yang dinilai kurang tegas terhadap konflik di Timur Tengah.

Ia menilai, ketidakberanian Indonesia dalam menyikapi secara vokal eskalasi serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor penghambat kebebasan lalu lintas kapal nasional di jalur perairan strategis tersebut.

ADVERTISEMENT

"Andai Indonesia berani mengutuk serangan AS-Israel ke Iran, rasanya kapal-kapal tanker kita akan bebas lalu lalang di selat Hormuz," ujar Jhon dikutip dari unggahannya di media sosial, Minggu (29/3/2026).

Pegiat media yang dikenal kritis terhadap pemerintahan saat ini itu lantas menyoroti sikap negara tetangga, Malaysia, yang dinilainya jauh lebih tegas dan konsisten sejak awal konflik memanas.

Menurutnya, ketegasan Malaysia dalam mengecam aksi agresi militer Washington dan Tel Aviv memberikan dampak nyata berupa akses bebas bagi kapal-kapal tanker negeri jiran tersebut.

"Buktinya tanker Malaysia bebas lewat selat Hormuz, karena sikap mereka dari awal jelas, mengecam serangan AS," tegas Jhon Sitorus dalam pernyataannya yang viral.

Ia bahkan menyebut bahwa Malaysia tidak seperti Indonesia dalam menentukan sikap politik luar negeri di tengah gejolak geopolitik kawasan Timur Tengah yang sedang memanas.

"Malaysia bukan pengecut," kuncinya, menyiratkan kritik pedas terhadap langkah diplomasi yang ditempuh oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ketika berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz sama sekali tidak ditutup secara total untuk seluruh pelayaran internasional.

"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi seperti dikutip dari kantor berita Reuters.

"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," imbuhnya menambahkan.

Pernyataan diplomat top Iran tersebut mengonfirmasi bahwa Teheran masih membuka akses secara terbatas hanya bagi kapal-kapal tertentu, terutama yang berasal dari negara-negara yang dinilai memiliki hubungan bilateral baik.

Data pelayaran dari lembaga Kpler menunjukkan penurunan drastis jumlah kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, yakni hanya tercatat 99 kapal atau rata-rata lima hingga enam unit per hari.

Angka tersebut kontras jauh jika dibandingkan dengan situasi sebelum pecahnya perang, di mana sekitar 138 kapal setiap harinya melintasi Selat Hormuz berdasarkan data Joint Maritime Information Centre untuk membawa seperlima pasokan minyak global.

Hingga tanggal 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Pertamina yang bernama PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro tercatat masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz.

Berdasarkan pantauan pada situs pelayaran MarineTraffic, kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di posisi sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi, sementara kapal Gamsunoro berada di dekat perairan pesisir Kuwait dan Irak.

Pihak Pertamina International Shipping menyatakan bahwa kapal Pertamina Pride tengah mengangkut kargo untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra dari pihak ketiga.

"Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri," tulis Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas di Tehran guna mengupayakan agar dua kapal tanker nasional tersebut dapat segera memperoleh izin melintas. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung