Berita, Hukum

JK Tak Mudah Hadapi Strategi Ganda Jokowi, Ini Alarm buat Prabowo

Repelita.id

24 April 2026 14:31 WIB

JK  Tak Mudah Hadapi Strategi Ganda Jokowi, Ini Alarm buat Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sebuah analisis menarik dilontarkan oleh Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, mengenai dinamika konflik antara Jusuf Kalla dan Joko Widodo yang baru-baru ini memanas.

Erizal menyoroti bahwa jika sepasang eks petinggi negara yang dulunya sempat berpasangan mesra seperti JK dan Jokowi saja bisa bersengketa, maka potensi gesekan antara Jokowi dan Prabowo Subianto patut diwaspadai.

ADVERTISEMENT

Apalagi mengingat Jokowi dan Prabowo dulunya merupakan rival berat yang bertarung sengit dalam dua kali pemilihan presiden secara berturut-turut.

Hingga saat ini, kubu Jokowi kerap mewanti-wanti bahwa Prabowo bisa menjadi presiden karena ulah Jokowi, bahkan disebut-sebut karena faktor pesona Gibran Rakabuming Raka yang dianggap tiada duanya.

JK yang belakangan ini marah besar karena merasa “dikerjai” oleh pihak Jokowi, dengan lantang mengklaim bahwa Jokowi menjadi presiden berkat jasanya.

Namun klaim JK tersebut dengan cepat ditepis oleh kubu Jokowi yang menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak benar.

Menurut kubu Jokowi, justru JK-lah yang menumpang popularitas Jokowi sehingga bisa duduk enak sebagai wakil presiden untuk kedua kalinya.

Buktinya, saat JK maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto, pasangan tersebut kalah telak, tidak hanya oleh SBY tetapi juga oleh Megawati.

Kemarahan JK yang merasa “dikerjai” oleh pihak Jokowi dinilai tidak tepat sasaran dan justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

JK kemudian terseret ke dalam kasus dugaan ijazah Jokowi karena merasa dituduh mendanai pihak Roy Suryo.

Alih-alih berhasil membela diri, JK justru diserang balik dengan video ceramah lamanya di Universitas Gadjah Mada yang beredar luas.

Dalam pertarungan head to head dengan Jokowi dan Gibran, JK terlihat kalah telak karena mengambil posisi yang salah.

Seharusnya yang melaporkan dan meminta Jokowi menunjukkan ijazah bukanlah JK, melainkan pihak Jokowi sendiri karena sejak dulu sudah menjadi pakem yang berlaku.

Selain itu, sikap emosional JK yang mengklaim Jokowi menjadi presiden karena dirinya dinilai tidak hanya kalah telak tetapi juga salah besar.

Agaknya JK kurang menyadari bahwa klaim semacam itu tidak akan pernah dibenarkan oleh publik.

Coba lihat bagaimana respons Jokowi menghadapi semua ini: sangat santai dan datar tanpa beban.

Jokowi dengan rendah hati mengatakan dirinya bukan siapa-siapa bahkan menyebut dirinya sebagai “orang kampung”.

Ucapan merendah tersebut justru membuat posisi Jokowi melambung tinggi melampaui JK di mata publik.

Bahkan Gibran ikut berkomentar dengan nada yang sangat positif, menyebut JK sebagai idola dan teladan bagi semua.

Strategi komunikasi ini membuat JK terlihat benar-benar selesai dan sulit untuk bangkit lagi tanpa strategi yang matang.

Yang diperlukan JK saat ini tidak hanya ahli hukum atau pengacara handal, tetapi juga pakar komunikasi dan tim polster yang canggih.

Jika JK mengatakan komunikasi pemerintahan Prabowo bermasalah, maka komunikasi JK dalam kasus ini juga terbukti bermasalah.

JK tidak akan mudah menghadapi permainan politik Jokowi jika tidak menggunakan strategi ganda yang jitu.

Menurut Erizal, Jokowi selama ini memakai strategi ganda, bukan hanya strategi tunggal, yaitu strategi atas dan strategi bawah.

Strategi atas dimainkan langsung oleh Jokowi, sementara strategi bawah digerakkan oleh para pendukungnya.

Strategi bawah inilah yang membuat JK marah dengan menggunakan istilah “Termul” untuk menyebut para pendukung Jokowi.

Jika JK tidak menggunakan strategi ganda atau bahkan tiga strategi sekaligus jika perlu, maka ia akan terus kalah dan kelelahan sendiri.

Hanya strategi ala Jokowi yang mampu mengubah seorang Rismon Sianipar yang awalnya sangat antipati terhadap Jokowi dan Gibran.

Tiba-tiba saja Rismon berbalik menjadi pendukung yang harus sungkem dan menundukkan kepala tanpa merasa malu sedikit pun.

Bahkan yang lebih luar biasa, ia melakukannya dengan penuh rasa bangga, bukan keterpaksaan.

Rasanya JK belum pernah mampu melakukan hal seperti itu sepanjang karir politiknya.

Ini seharusnya menjadi alarm peringatan dini bagi Prabowo, seperti yang sudah disinggung sebelumnya.

Jika dengan JK saja Jokowi bisa bersengketa dan keluar sebagai pemenang, apalagi dengan Prabowo yang notabene mantan rival beratnya.

Ketika Prabowo memberikan amnesti dan abolisi kepada Hasto Kristiyanto serta Tom Lembong, para pendukung Jokowi langsung bereaksi keras.

Bahkan ada di antara mereka yang dengan lantang menyuarakan agar Prabowo segera diturunkan dari kursi kepresidenan.

Secara kebetulan, sejumlah civil society seperti Saiful Mujani dan Feri Amsari kini juga ikut menyuarakan wacana penurunan Prabowo melalui mekanisme di luar konstitusi.

Perlu diingat bahwa mereka ini dulunya adalah pendukung setia Jokowi yang pada Pilpres 2014 dan 2019 ikut mengalahkan Prabowo.

Tidak mustahil cinta lama antara kelompok civil society tersebut dengan Jokowi akan bersemi kembali di masa depan.

Oleh karena itu, pihak Prabowo perlu berhati-hati dan tidak boleh lengah menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung