Repelita [Surakarta] - Mantan kepala negara Joko Widodo menyikapi secara rileks perihal insiden bocornya rekaman suara dari alat pengeras suara milik pimpinan parlemen yang sempat menangkap pembicaraan sensitif di tengah sidang utama pekan lalu.
Peristiwa tidak terduga tersebut bergulir di tengah pelaksanaan agenda formal dewan perwakilan ketika pucuk pimpinan eksekutif yang baru tengah melangkah menuju area mimbar kehormatan guna membacakan naskah pidato kenegaraan.
ADVERTISEMENT
Pada momen sakral di gedung kura-kura tersebut perangkat penangkap suara milik salah satu pimpinan sidang kedapatan masih dalam posisi aktif sehingga meloloskan bisikan kalimat yang menyinggung nama sang mantan presiden.
"Asal jangan teriak hidup Jokowi," demikian bunyi penggalan kalimat yang secara tidak sengaja mengudara melalui sistem audio gedung parlemen dan langsung memicu kehebohan di ruang publik siber.
Dokumentasi audio visual terkait insiden teknis tersebut dalam sekejap menjadi viral di berbagai platform linimasa digital hingga memicu rupa-rupa spekulasi politik dari masyarakat pengguna jejaring internet.
Banyak kalangan menilai bahwa kebocoran suara tersebut mencerminkan realitas hubungan serta peta kekuatan politik yang dinamis di tingkat elite pasca-berakhirnya masa transisi kepemimpinan nasional.
Kendati demikian tokoh bangsa asal kota Bengawan tersebut menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menaruh dongkol atau mempersoalkan muatan kalimat yang terlanjur tersebar luas di jagat maya tersebut.
Saat dimintai keterangan oleh para pemburu berita di kediaman pribadinya pada awal pekan ini sang mantan wali kota justru memperlihatkan gestur jenaka tanpa beban.
Dirinya berseloroh bahwa ketimbang meributkan yel-yel yang menyuarakan nama besarnya di ruang sidang parlemen ia saat ini jauh lebih fokus untuk mengutamakan pemulihan kebugaran fisik pribadinya.
Sikap santai yang ditunjukkan lewat senyuman khas tersebut seketika mencairkan suasana wawancara dan disambut gelak tawa oleh para wartawan siber yang meliput di kediaman Sumber.
Tokoh yang baru purnatugas tersebut kembali mempertegas bahwa substansi pembicaraan yang bocor itu sama sekali tidak mengusik ketenangan dirinya maupun menimbulkan rasa ketersinggungan personal.
Ia memandang dinamika siber tersebut sebagai bumbu peristiwa yang lumrah terjadi dalam aktivitas kedewanan sehingga publik tidak perlu larut dalam polemik yang tidak produktif.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok