Berita, Nasional

Jokowi Tepis Tafsir Politik Ritual Injak Kepala Kerbau, Guntur Romli Tetap Soroti Simbol Ambisi Kekuasaan Keluarga

Repelita.id

07 July 2026 19:36 WIB

Jokowi Tepis Tafsir Politik Ritual Injak Kepala Kerbau, Guntur Romli Tetap Soroti Simbol Ambisi Kekuasaan Keluarga
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan klarifikasi terkait aksi dirinya menginjak kepala kerbau saat menerima penganugerahan gelar adat di Lampung.

Jokowi menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari rangkaian ritual adat yang sudah lazim dilaksanakan ratusan kali, bukan sekadar peristiwa tunggal.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini disampaikan Jokowi di kediamannya pada Selasa (7/7/2026) untuk merespons spekulasi publik yang mengaitkan kepala kerbau sebagai simbol kepala banteng.

Itu ritual adat. Sekali lagi itu ritual adat yang sudah tidak sekali dua kali, udah ratusan kali dilakukan, tegas Jokowi.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menarik persoalan pemberian gelar adat ini ke ranah politik praktis karena merupakan bentuk kehormatan dari Istana Kedaton Kerajaan Lampung.

Ya itu kan bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung. Bentuk penghormatan dari Istana Kedaton Kerajaan Lampung. Dan saya merasa terhormat diberikan penghargaan, ungkapnya.

Jokowi mengajak seluruh pihak agar lebih menghargai kearifan lokal serta kekayaan budaya bangsa alih-alih selalu mengaitkan setiap peristiwa dengan dinamika politik yang tidak relevan.

Dan jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering nggak sambung. Kita harus terus menghargai adat-istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan-budaya kita karena budaya kita ini sangat beragam sekali, tambahnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Mohammad Guntur Romli menyoroti aksi Jokowi tersebut dalam kunjungan di Lampung pada Sabtu (27/6/2026) dan menyebutnya sarat makna politis.

Guntur mengaitkan hal itu dengan disertasi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengenai gaya kepemimpinan Jokowi yang dianggap memadukan feodalisme, populisme, dan karakter Machiavelianisme.

Apa yang dilakukan Jokowi dalam foto yang beredar (sedang menginjak kepala kerbau) semakin membuktikan kebenaran disertasi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bahwa Jokowi membangun identitas kepemimpinannya sebagai perpaduan the triangle of authoritarian populism yang memadukan feodalisme dengan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja; populisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya, ujar Guntur.

Ia juga menuding adanya ambisi kekuasaan keluarga Jokowi melalui jabatan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden, Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumatera Utara, serta Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI.

Tidak heran meskipun sudah menjadi presiden 2 periode dan menjadikan anaknya Gibran sebagai Wapres melalui manipulasi MK; dan menantunya Bobby sebagai Gubernur Sumut serta Kaesang sebagai Ketua Umum PSI, katanya.

Guntur menilai simbol kepala kerbau yang diinjak merepresentasikan kritik terhadap pengikut Jokowi dan PSI yang dianggapnya telah terbuai oleh ambisi kekuasaan sang mantan presiden.

Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi, pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung