Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Ulta Levenia Nababan kembali memicu perbincangan hangat di ruang publik setelah melontarkan spekulasi yang menghubungkan rangkaian erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia dengan proyek eksperimental High-frequency Active Auroral Research Program milik Amerika Serikat.
Dalam unggahan yang dibagikannya melalui akun Instagram pribadi pada hari Senin tanggal 7 September tahun 2026, ia mulanya sempat mengakui kemungkinan bahwa rentetan bencana alam tersebut murni merupakan proses geologis yang berjalan secara alami.
ADVERTISEMENT
HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima, tulis Ulta dalam unggahan tersebut.
Kendati demikian, naluri skeptis yang dimilikinya mendorong perempuan tersebut untuk membuka ruang bagi teori konspirasi yang sering disematkan pada fasilitas riset ionosfer berteknologi tinggi itu.
Ia menyoroti bahwa proyek riset gelombang radio berkekuatan besar yang berpusat di Alaska itu awalnya memang mendapatkan kucuran dana dari angkatan udara, angkatan laut, serta lembaga riset pertahanan Amerika Serikat.
HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), terang Ulta dalam narasinya.
Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi, lanjut beliau menambahkan spekulasi pribadinya.
Lebih lanjut, ia menarik kesimpulan tersebut ke dalam kacamata geopolitik intelijen dengan mempertanyakan urgensi militer negeri Paman Sam dalam membangun pemancar radio raksasa di wilayah utara yang dingin.
Kenapa ada gap conspiracy ini tentang Project HAARP, karena kalau dilihat dengan kaca mata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska, papar Ulta.
Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?, imbuh beliau mempertanyakan motif di balik fasilitas tersebut.
Sebagai catatan, fasilitas riset ionosfer tersebut sendiri sebenarnya kini telah beralih status kepemilikan serta operasionalnya secara penuh kepada pihak University of Alaska Fairbanks sejak bulan Agustus 2015 silam.
Tidak berhenti sampai di situ, Ulta juga mencoba merangkaikan isu teknologi pengendali cuaca tersebut dengan agenda diplomasi tingkat tinggi antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pertemuan bilateral yang berlangsung di kota Vladivostok pada tanggal 3 September tahun 2026 itu dikaitkan secara tidak langsung dengan waktu meletusnya sejumlah gunung berapi secara berbarengan di Tanah Air.
Walau enggak ada bukti ilmiah yang kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, 'Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?', ujar Ulta.
Ia bahkan mengeklaim bahwa kecurigaan serupa terhadap dugaan intervensi teknologi asing dalam bencana alam tidak hanya dirasakan oleh dirinya seorang diri, melainkan juga oleh sejumlah negara besar lain.
Yang curiga tentang ini bukan saya sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama, tulis beliau menutup rangkaian argumen kontroversial tersebut.
Sebelumnya, narasi serupa juga sempat disuarakan oleh Ulta dalam salah satu episode siaran siniar di kanal YouTube Bukan Kaleng Kaleng yang ditayangkan pada tanggal 27 Agustus tahun 2026 yang lalu.
Dalam siniar tersebut, ia sempat membahas berbagai gejolak politik domestik hingga bencana gempa di luar negeri dan menyimpulkan bahwa sebagian besar kejadian itu melibatkan unsur orkestrasi pihak tertentu.
Sehingga gue agak, mungkin sekitar 73,5 persen gue kayak, nah ini pasti ada yang orkestrasi deh gitu, ucap Ulta dalam rekaman siniar tersebut.
Menanggapi berbagai spekulasi liar yang beredar di masyarakat, para pakar kebumian secara tegas membantah adanya korelasi antara proyek teknologi frekuensi tinggi dengan aktivitas vulkanisme di dalam perut bumi.
Pakar Vulkanologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Agung Harijoko, memastikan bahwa letusan gunung berapi merupakan murni proses geologi alamiah akibat desakan magma dan tekanan gas.
Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu ya, belum ada buktinyalah kalau mau dikatakan seperti itu, tegas Agung saat memberikan penjelasan dalam diskusi di UGM, Sleman, DI Yogyakarta, pada hari Rabu tanggal 9 September tahun 2026.
Jadi tetap kalau saya percaya itu proses alami, proses geologi, imbuh akademisi tersebut menegaskan keyakinan ilmiahnya di hadapan para peserta diskusi.
Ia juga menjelaskan bahwa meletusnya enam gunung secara bersamaan, yakni Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, serta Sinabung, merupakan fenomena yang sangat wajar terjadi secara kebetulan.
Sangat bisa, karena mereka punya sistem sendiri-sendiri, jadi bukan artinya gunung sini memengaruhi yang lain, itu tidak, terang Agung memaparkan cara kerja dapur magma yang independen.
Tapi memang mereka kebetulan kondisi di masing-masing gunung api itu memang sudah memungkinkan untuk terjadi erupsi, pungkas pakar vulkanologi tersebut memberikan pencerahan.
Sementara itu, pihak Istana Kepresidenan melalui Kepala Kantor Staf Presiden, Dudung Abdurachman, memberikan klarifikasi tegas untuk meluruskan status kelembagaan Ulta Levenia Nababan di lingkungan pemerintahan.
Dudung menegaskan bahwa segala bentuk pernyataan pribadi yang disampaikan oleh Ulta sama sekali tidak mencerminkan sikap resmi dari Kantor Staf Presiden maupun kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia.
Ulta sudah bukan di KSP lagi, dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak, ujar Dudung saat memberikan keterangan pers di Gedung Bina Graha pada hari Kamis tanggal 10 September tahun 2026.
Ia sekarang salah satu deputi di Bakom, lanjut Dudung memperjelas posisi terbaru mantan staf ahli tersebut di instansi lain.
Kepala KSP tersebut juga kembali menekankan bahwa pemerintah menolak segala bentuk narasi yang berupaya menyeret insiden bencana alam nasional ke dalam ranah konspirasi kepentingan kekuatan asing.
Menurut saya, tidak dikaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya, pungkas Dudung mengakhiri pernyataannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok